Travel Advice: Pemerintah Janji Berikan Perkembangan Terkini kepada Wisman

Pemerintah merespons bertambahnya jumlah negara yang memberikan imbauan bepergian ke Indonesia dengan selalu memberikan perkembangan terkini mengenai situasi keamanan dalam negeri kepada para wisatawan mancanegara.
Deandra Syarizka | 16 Mei 2018 18:19 WIB
Wisatawan berfoto dengan latar pemandangan Water Blow Huts, di Nusa Lembongan, Bali, Rabu (21/3/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah merespons bertambahnya jumlah negara yang memberikan imbauan bepergian ke Indonesia dengan selalu memberikan perkembangan terkini mengenai situasi keamanan dalam negeri kepada para wisatawan mancanegara.

Hingga Rabu (16/5/2018), setidaknya 14 negara telah mengeluarkan travel advice, antara lain  Inggris, Amerika Serikat, Australia, Hong Kong, Selandia Baru, Singapura, Kanada, Swiss, Malaysia, Polandia, Irlandia, Prancis, Brazil, dan Filipina.

Menanggapi hal ini, Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan, dampak travel advice tidak sama seperti travel warning yang akan langsung berpengaruh kepada jumlah kunjungan. Pasalnya, tingkat kepatuhan wisman terhadap travel advice berbeda-beda. Meski demikian, pihaknya menyatakan selalu memberikan berita terbaru kepada para wisman.

“Bahwa ada kejadian terbaru di Riau, kita umumkan. Memang harus diumumkan,” ujarnya, Rabu (16/5/2018).

Lebih lanjut, Arief mengaku belum mendapatkan informasi adanya pembatalan penerbangan, khususnya di daerah wisata andalan seperti Bali dan Batam. Kedua daerah tersebut menyumbang 60% kedatangan wisman ke Tanah Air.

Menpar berharap, travel advice itu tidak berdampak pada penurunan jumlah wisman. Apalagi mengingat pemerintah tengah berupaya mencapai target 17 juta wisman pada tahun ini.

Dia menjelaskan, travel advice tidak bersifat larangan seperti travel warning dan travel ban. Menurutnya, imbauan itu bersifat sementara dan akan dicabut bila kondisi keamanan telah pulih sepenuhnya.

Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar Guntur Sakti menuturkan, pihaknya terus memantau apakah ada negara yang menaikkan atau langsung menetapkan status menjadi travel warning. Sejauh ini, dia menegaskan belum ada negara yang memberikan status tersebut.

“Kalaupun ada [yang memberikan status travel warning kami hargai. Yang penting kami selalu menginformasikan, meng­-update perkembangan terbaru kepada wisatawan,” jelasnya.

Pihaknya mengaku belum dapat mengestimasikan kerugian yang akan didera oleh pariwisata nasional bila ada negara yang menaikkan status menjadi travel warning. Dia hanya menyebut bila China menerbitkan status tersebut, baru akan terasa dampaknya bagi Indonesia.

 Pasalnya, negeri tersebut memang merupakan penyumbang terbesar wisman bagi nusantara. Pada tahun lalu, China menyumbang 1,9 juta wisman dari perolehan total sebesar 14,03 juta kunjungan wisman. Diikuti dengan Singapura 1,5 juta wisman, Malaysia 1,2 juta, Australia 1,18 juta, dan Jepang 538.334 wisman.

“Sejauh ini RRT [Republik Rakyat Tiongkok] baru mengungkapkan rasa duka cita saja,” ujarnya.

Seperti diketahui, travel advice diterbitkan oleh sejumlah negara sebagai respons atas kasus ledakan bom yang terjadi di Surabaya pada Minggu (13/05). Semula, hanya lima negara yang mengeluarkan imbauan tersebut yaitu Inggris, Amerika Serikat, Australia, Singapura dan Hong Kong.

Namun, situasi keamanan yang belum kondusif, ditambah aksi terror yang meluas ke kota lainnya seperti Sidoarjo dan terkini Riau, membuat daftar negara yang mengeluarkan imbauan tersebut bertambah panjang.

 

Tag : pariwisata
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top