Impor Beras Tambahan Tak Pengaruhi Serapan Gabah

Impor 500.000 ton beras medium tahap kedua diyakini tidak mengganggu serapan gabah di tingkat petani meskipun waktu impor berdekatan dengan prediksi panen raya kedua pada Juli hingga Agustus.
Rayful Mudassir | 17 Mei 2018 16:27 WIB
Petani menjemur gabah di tempat pengeringan gabah, di Karanganyar, Jawa Tengah, Rabu (7/2/2018). - ANTARA/Mohammad Ayudha

Bisnis.com, JAKARTA – Impor 500.000 ton beras medium tahap kedua diyakini tidak mengganggu serapan gabah di tingkat petani meskipun waktu impor berdekatan dengan prediksi panen raya kedua pada Juli hingga Agustus.

Kementerian Perdagangan telah mengeluarkan impor beras medium 500.000 ton pekan lalu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Izin tersebut keluar melalui rapat terbatas antar kementerian dan institusi terkait.

Rencananya pemerintah akan memasok beras dari sejumlah negara seperti Vietnam, Thailand, Pakistan dan Myanmar. Beras yang bakal dipasok diharapkan dapat memenuhi kebutuhan maupun permintaan pasar.

Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas Santosa mengatakan impor beras saat ini tidak mengganggu produksi milik petani. Pasalnya secara pola tahunan panen kedua memiliki kecenderungan harga gabah berada di atas ketetapan harga pembelian pemerintah sehingga tidak dapat diserap oleh Bulog.

“Juni akan mulai naik harga gabah, tapi sudah mulai naik dan pasti akan diatas HPP. Kecuali dari wilayah yang jauh, yang masih di bawah HPP, kalau ke pusat produksi [ingin menyerap gabah] jangan harap,” kata Andreas kepada Bisnis.com.

Menurut Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) untuk Januari 2018 sebanyak Rp4.286/kg untuk gabah kering panen. Diperkirakan dengan kondisi panen yang tidak sebanyak panen pertama, harga GKP akan lebih tinggi dibanding kajian Januari. Secara tidak langsung bakal membuat keuntungan petani lebih tinggi.

Di samping itu, menurut Dwi petani cenderung menyimpan gabahnya untuk akhir tahun saat masa panceklik. Sehingga impor kali ini diperkirakan hanya untuk cadangan Bulog saja.

Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi menyebut impor beras tersebut hanya diperuntukan untuk cadangan pangan di Bulog. Selain itu produksi petani akan terserap oleh kebutuhan lokal. Apabila berlebih, maka akan diserap Bulog dan pasar di daerah konsumsi tinggi seperti Jakarta.

“Bulog harus punya stok minimal 1,5 juta ton,” katanya.

Beras impor ini nantinya diperuntukkan guna menjaga stabilitas pasokan dan harga nasional. Pihaknya memastikan beras tersebut tidak akan mengganggu produksi milik petani. Beras ini nantinya hanya dikeluarkan saat harga tinggi maupun mulai terjadi peningkatan kebutuhan.

Meski begitu pernyataan berbeda dikeluarkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Menurutnya impor dilakukan setelah melihat harga beras yang masih tinggi. 

Dia menyebut harga beras medium saat ini masih di kisaran Rp10.500/kg. Angka ini masih jauh atas harga eceran tertinggi HET yakni Rp9.450/kg di wilayah Jawa, Sumatera Selatan dan Bengkulu.

“Jangan tanya [kebutuhan impor untuk berapa lama], harga sudah turun belum?,” katanya. Darmin menyebut impor 500.000 ton tahap pertama lalu tidak memberikan dampak pada penurunan harga. Pihaknya juga terus memantau perkembangan produksi.

 

Tag : impor beras
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top