Realisasi Target Ekspor 2018 Bakal Sulit Tercapai

Pemerintah diyakini bakal kesulitan merealisasikan target pertumbuhan ekspor sebesar 11% pada tahun ini, setelah melihat tren penurunan permintaan terhadap sejumlah komoditas andalan Indonesia.
Rayful Mudassir | 17 Mei 2018 16:32 WIB
Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) didampingi Menperin Airlangga Hartarto (kiri), Dirut Pelindo II Elvyn G. Masassya (kedua kiri), Menteri BUMN Rini Soemarno (tengah), Menhub Budi Karya Sumadi dan Mendag Enggartiasto Lukita menekan tombol pelepasan ekspor komoditas Indonesia menggunakan kapal kontainer berukuran raksasa, di Terminal JICT, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/5/2018). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah diyakini bakal kesulitan merealisasikan target pertumbuhan ekspor sebesar 11% pada tahun ini, setelah melihat tren penurunan permintaan terhadap sejumlah komoditas andalan Indonesia.

Kementerian Perdagangan telah menargetkan performa ekspor (migas dan nonmigas) tahun ini mampu mencapai US$188,7 miliar, naik dari realisasi senilai US$169,0 miliar pada tahun lalu. Sejauh ini, ekspor secara kumulatif pada tahun ini baru mencapai US$58,74 miliar.

Ekonom Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia Mohammad Faisal berpendapat meskipun pada kuartal I/2018 defisit neraca perdagangan RI masih di bawah kendali, pada kuartal II/2018 potensi pelebaran defisit akan semakin menguat.

“Selain karena kenaikan impor konsumsi jelang Ramadan, ekspor manufaktur juga bakal mengalami perlambatan. Di sisi lain, Indonesia masih bergantung pada ekspor komoditas dasar seperti CPO dan batu bara,” ujarnya kepada Bisnis.com.

Permasalahannya, lanjut Faisal, kedua komoditas tersebut mengalami tekanan permintaan akibat berbagai hambatan, mulai dari isu lingkungan hingga rencana pelarangan biodiesel berbahan minyak sawit dan pengenaan bea masuk CPO oleh Amerika Serikat dan India.

Badan Pusat Statistik (BPS) mendata ekspor batu bara April hanya US$1,87 miliar, turun dari capaian US$2,29 miliar bulan sebelumnya. Ekspor CPO turun dari US$1,70 miliar menjadi US$1,62 miliar, ekspor perhiasan dan permata turun dari US$594 juta menjadi US$522 juta, dan ekspor besi dan baja turun dari US$532 juta menjadi US$364 juta.

“Di sisi lin, [ekspor produk] manufaktur [yang seharusnya] menggantikan ekspor komoditas belum terlalu kuat. Itulah mengapa kami pesimistis target ekspor 11% bisa tercapai. Apalagi, jika melihat performa [ekspor] pada April yang pertumbuhannya malah negatif,” tuturnya.

Nilai ekspor April 2018 hanya menyentuh US$14,47 miliar, anjlok 7,19% dari bulan sebelumnya. Meskipun demikian, secara year on year, nilai tersebut masih lebih tinggi dari capaian bulan yang sama tahun lalu yaitu US$13,27 miliar.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira juga menilai pemerintah akan sangat kesulitan merealisasikan target ekspor 11%. Sebab, selain permintaan CPO dan batu bara turun, produk alas kaki dan tekstil Indonesia mulai dikalahkan oleh ekspor produk manufaktur Vietnam selama lima tahun terakhir.

Dia menilai salah satu cara yang paling efektif untuk mendongkrak performa ekspor pada tahun ini adalah dengan melakukan diplomasi intensif dengan negara-negara mitra untuk menganulir hambatan dagang agar iklim perdagangan global lebih kondusif.

Selain itu, pemerintah harus lebih gencar menjajaki pasar ekspor nontradisional untuk menangkal dampak perang dagang antara China dan AS. “Dua kawasan yang potensial untuk dijadikan pasar [ekspor] baru adalah Amerika Latin dan Afrika.”

Dari sisi industri, kata Bhima, pemerintah harus serius dengan program penghiliran agar pasar dalam negeri tidak selamanya kecanduan produk impor. Upaya penghiliran harus mengerucut pada produk-produk bernilai tambah.

JANGKA PENDEK

Dia menambahkan strategi jangka pendek yang dapat dilakukan pemerintah untuk memapah kinerja ekspor yang semakin loyo adalah memberikan insentif fiskal dan nonfiskal seperti tax holiday, khususnya untu produk industri berorientasi ekspor.

“Proses distribusi di pelabuhan juga harus lebih efisien untuk memangkas dwelling time. Pemerintah harus melakukan itu semua dalam waktu dekat karena pemilu sudah semakin dekat. Dikhawatirkan, nanti mereka akan kurang fokus [meningkatkan ekspor],” tegasnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan Kasan Muhri tetap optimistis target pertumbuhan ekspor 11% pada tahun ini bisa direalisasikan.

Toh, defisit neraca perdagangan April 2018 lebih dikarenakan defisit migas senilai US$1,1 miliar, sedangkan nonmigas hanya US$0,5 miliar. Dia juga mengatakan secara volume, ekspor April naik 11,9% dari periode yang sama tahun lalu.

“Artinya kenaikan ekspor secara riil dari sisi volume lebih besar dibandingkan dengan pengaruh tekanan harga komoditas,” ujarnya. Menurutnya, kenaikan volume ekspor nonmigas itu merupakan refleksi masih kuatnya permintaan terhadap komoditas.

“Jika mengacu pada capaian [ekspor pada] empat bulan pertama [2018] dan perkiraan ekonomi global serta harga komoditas yang mulai membaik pada Juni—ditambah dengan dukungan ekonomi nasional—kami yakin dalam sisa waktu delapan bulan ke depan tren peningkatan ekspor diperkirakan masih akan berlanjut.”

Selama ini, klaim Kasan, pemerintah telah berjuang mencapai target ekspor seperti melalui promosi dan misi dagang, penanganan hambatan nontarif, pembukaan akses pasar via kerja sama perdagangan, dan pendekatan diplomasi perdagangan bilateral dengan mitra dagangan utama dan tradisional.

 

Tag : ekspor
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top