Dua Masalah Ini Jadi Pemicu Mahalnya Harga Gula Konsumen

Tingginya harga gula kristal putih (GKP) di tingkat konsumen disinyalir bermuara dari adanya syarat pembelian minumum oleh Perum Bulog (Persero) dan disparitas biaya produksi antara pabrik gula BUMN dan swasta.
Rayful Mudassir | 24 Mei 2018 10:48 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Tingginya harga gula kristal putih (GKP) di tingkat konsumen disinyalir bermuara dari adanya syarat pembelian minumum oleh Perum Bulog (Persero) dan disparitas biaya produksi antara pabrik gula BUMN dan swasta.

Berdasarkan klaim Asosiasi Pedagang Pasal Seluruh Indonesia (APPSI), saat ini harga jual gula di tingkat pedagang berkisar antara Rp13.000—Rp14.000 per kilogram. Sementara itu, di tingkat konsumen rata-rata harga GKP saat ini menembus Rp13.950/kg.

Padahal, sesuai Peraturan Menteri Perdagangan No.27/2017 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Penjualan Konsumen, harga GKP di tingkat konsumen seharusnya hanya Rp12.500/kg.

Sekjen APPSI Muhammad Maulana mengungkapkan tingginya harga GKP bersumber dari adanya syarat pembelian di Bulog yang menyulitkan pedagang. Bulog menetapkan batasan pemesanan dalam jumlah tertentu dan tidak diperkenankan membayar secara tunai.

Dia menjelaskan proses pembayaran gula di Bulog diharuskan melalui Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN). Belum lagi, lanjutnya, pedagang harus mengeluarkan biaya di awal untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan tersebut.

“Intinya belum ada skema yang sesuai untuk pedagang pasar [yang hendak] membeli barang [dari] Bulog [secara] langsung,” katanya kepada Bisnis, Rabu (23/5/2018).

Dampaknya, kata Maulana, pedagang kesulitan mengakses gula dengan harga murah. Alhasil, mereka lebih memilih membeli melalui agen-agen yang telah lolos syarat dari Bulog.

Namun, konsekuensinya, harga yang dipatok agen-agen tersebut tak jarang mencapai Rp12.500/kg, sehingga sulit bagi para pedagang untuk menjual gula di tingkat konsumen sesuai harga acuan yang ditetapkan Kementerian Perdagangan.

Di sisi lain, Dewan Komisaris Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) Saidah Sakwan mengatakan tingginya harga gula diduga juga merupakan akibat dari disparitas biaya produksi dan efisiensi di pabrik gula (PG) milik BUMN dan swasta.

Menurutnya, biaya produksi di PG pelat merah saat ini berkisar antara Rp9.500—Rp10.500 per kilogram, padahal harga internasional gula sekarang hanya Rp3.300/kg. Tidak hanya itu, dari sisi off farm, rendemen di PG milik negara juga masih rendah.

Dari sisi on farm, pemicunya adalah rendahnya kualitas tebu dan semakin berkurangnya lahan tebu tani rakyat yang dikelola oleh berbagai PG milik BUMN di Pulau Jawa.

Sebaliknya, kata Saidah, PG milik swasta lebih terintegrasi dan hanya sedikit yang memiliki perkebunan inti rakyat. Dia juga mengklaim PG milik swasta memiliki mesin produksi yang lebih efisien, sehingga biaya produksi dapat ditekan menjadi rata-rata Rp5.500/kg.

Direktur Tanaman Semusim PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Holding M. Cholidi menampik anggapan PG pelat merah tidak efisien. Menurutnya, banyak PG BUMN yang mencapai rendemen di atas PG swasta.

Hal senada juga diutarakan Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) Didiek Prasetyo. Dia mencontohkan PG milik RNI yang beroperasi sejak 1896 sempat mencatatkan rendemen 10,03% pada 2015, di atas rerata nasional sebesar 7%-8%.

Selama ini RNI telah melakukan sejumlah upaya untuk meningkatkan efisiensi produksi sehingga dapat menekan biaya produksi. Tahun ini RNI bahkan membidik target ambisius sampai akhir giling antara Rp6.500 – Rp7.500/kg.

“Peningkatan efisiensi kami ukur dari overall recovery [OR]. OR Tahun ini naik dari 79%-80% tahun lalu menjadi 80-81,5% tahun ini,” katanya.

Sementara itu, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Bayu Krisnamurthi berpendapat tingginya harga gula sebenarnya dipengaruhi kondisi harga pokok gula dalam negeri yang mahal karena faktor biaya produksi.

Kendati demikian, dia memproyeksikan produksi tebu di Indonesia masih cukup baik meskipun tidak surplus, sehingga pasokan gula dari tebu dalam negeri tidak melonjak sangat tinggi.

“Perilaku pasar itu tidak selalu dapat ditebak. Ada situasi hanya dengan tambahan pasokan kecil pasar sudah goyang. Namun, ada juga situasi dengan tambahan pasokan yang cukup besar, pasar tidak terpengaruh,” sebutnya.

Di lain pihak, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Tjahya Widayati membantah laporan harga di pedagang melewati harga eceran tertinggi (HET) yang diatur otoritas perdagangan.

“Catatan saya, harga [gula masih] di bawah HET. Di catatan saya [harga gula] tidak setinggi itu,” ujarnya saat dimintai konfirmasi oleh Bisnis. Data di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) memaparkan harga GKP saat ini adalah Rp12.600/kg.

 

Tag : gula
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top