Blok Tuban & Ogan Komering, PHE Mulai Gelontorkan Investasi pada 2019

PT Pertamina Hulu Energi bakal mulai menggelontorkan investasi untuk Blok Tuban dan Ogan Komering mulai 2019. Sepanjang 2018, perseroan bakal berupaya menjaga produksi kedua blok itu agar tidak mengalami penurunan.
Surya Rianto | 24 Mei 2018 20:06 WIB
Blok Tuban. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Pertamina Hulu Energi bakal mulai menggelontorkan investasi untuk Blok Tuban dan Ogan Komering mulai 2019. Sepanjang 2018, perseroan bakal berupaya menjaga produksi kedua blok itu agar tidak mengalami penurunan.

Direktur Utama Pertamina Hulu Energi Gunung Sardjono Hadi mengatakan, perseroan tidak akan merevisi target 2018 produksi Blok Tuban dan Ogan Komering yang dipatok tidak lebih besar dibandingkan realisasi 2017. Pasalnya, perseroan mengajukan target itu dengan asumsi sepanjang 2018 adalah mempertahankan produksi.

"Paling penting, saat take over menjadi kontrak baru dengan skema gross split tidak ada penurunan produksi. Jadi, kami pun sulit juga langsung tahun pertama menjanjikan target besar," ujarnya dalam tajuk buka bersama PHE pada Rabu (23/5) malam.

PHE menargetkan produksi Blok Tuban 2018 untuk minyak sebesar 8.110 barel per hari, sedangkan untuk gas sebesar 11,11 juta kaki kubik per hari. Jumlah itu lebih rendah dibandingkan realiasi 2017, produksi minyak tahun lalu sebesar 10.500 barel per hari, sedangkan gas sebesar 14,2 juta kaki kubik per hari.

Lalu, PHE menargekan produksi Ogan Komering 2018 untuk minyak terjaga pada kisaran 1.950 barel per hari, sedangkan produksi gas sebesar 8,21 juta kaki kubik per hari. Jumlah itu juga lebih rendah ketimbang 2017, produksi minyak saat itu sebesar 2.250 barel per hari, sedangkan produksi gas sebesar 8,64 juta kaki kubik per hari.

Gunung mencatat, saat ini produksi di Blok Tuban dan Ogan Komering juga sudah berada di atas target. "Walaupun enggak jauh-jauh amat dari target sih, sekitar 1.200 barel ekuivalen per hari sampai 2.100 barel ekuivalen per hari di atas target lah," ujarnya.

Adapun, PHE belum bisa langsung tancap gas ketika alih kelola dilakukan pada April 2018 karena proses alih kontrak yang sangat mepet. Bahkan, sampai melewati masa terminasi Blok Tuban dan Ogan Komering pada 28 Februari 2018 sehingga ada keputusan perpanjangan selama 6 bulan kepada operator eksis.

Gunung menyebutkan, kondisi alih kelola Blok Tuban dan Ogan Komering berbeda dengan Blok Mahakam kepada PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Saat itu, PHM sudah disetujui kontraknya di mahakam sehingga ketika membuat rencana setelah alih kelola pada 2017 tidak ada masalah.

"Malah, pada masa transisi, Total sebagai operator eksis masih mengelola, tetapi dengan menggunakan dana dari PHM. Kalau Tuban dan Ogan Komering malah sudah terminasi dan sempat diperpanjang, jadi susah juga buat perencanaan jangka dekatnya," sebutnya.

Dia mengungkapkan, dalam rencanatahun ini, perseroan hanya akan mengoptimalisasi sumur dengan cara work over dan well service, sedangkan pengeboran atau investasi baru digelontorkan pada 2019 dan 2020.

Dalam kontrak berskema Gross Split itu, PHE bakal menggelontorkan US$42,25 juta di Blok Tuban sebagai komitmen pasti 3 tahun pertama. Lalu, anak usaha PT Pertamina (Persero) itu juga bakal mengelontorkan dana US$23,3 juta di Ogan Komering untuk komitmen pasti 3 tahun pertama.

Tag : pertamina hulu energi
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top