Incar Pasar AS, Pabrikan Alas Kaki Berharap Potongan Bea Masuk

Pelaku industri alas kaki berharap produk Indonesia bisa mendapatkan generalized system of preferences (GSP) dari Amerika Serikat agar daya saing dan ekspor bisa meningkat.
Annisa Sulistyo Rini | 05 Juni 2018 16:08 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan sepatu berbahan kulit, di Surabaya, Jawa Timur. - Antara/Moch Asim

Bisnis.com, JAKARTA—Pelaku industri alas kaki berharap produk Indonesia bisa mendapatkan generalized system of preferences (GSP) dari Amerika Serikat agar daya saing dan ekspor bisa meningkat. 

Firman Bakri, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) mengatakan selama 40 tahun produk alas kaki dalam negeri belum masuk ke dalam daftar penerima fasilitas GSP. Padahal, AS menjadi negara tujuan ekspor alas kaki terbesar dengan pangsa pasar sebesar 27,4% sepanjang tahun lalu. 

Kendati untuk mendapatkan GSP tidak mudah, Aprisindo menilai tahun ini menjadi momentum untuk mengupayakan fasilitas tersebut. Apabila mendapatkan GSP, produk alas kaki nasional bisa mendapatkan keringanan bea masuk hingga 0% dari yang saat ini diterapkan sekitar 20%. 

"Kami berharap pemerintah bisa mendukung supaya mendapat GSP. Tahun ini, GSP Indonesia juga sedang di-review oleh AS," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (5/6/2018).

Selain itu, Firman menyampaikan saat ini asosiasi alas kaki AS (American Apparel & Footware Association/AAFA) juga tengah mengajukan produk alas kaki sebagai penerima fasilitas GSP. Produk-produk alas kaki, terutama sepatu olahraga yang diproduksi di Indonesia juga sebagian besar dipasok untuk merek AS, seperti Nike, New Balance, dan Converse. 

Fasilitas GSP ini juga bisa meningkatkan daya saing karena hingga kini produk alas kaki dalam negeri bersaing dengan China dan Vietnam untuk jenis sepatu olahraga. Jenis ini memiliki kontribusi sekitar 90% dari jumlah total ekspor alas kaki Indonesia.

"Di AS, produk China dan Vietnam juga dikenakan bea masuk. Apalagi, GSP cenderung tidak diberikan ke negara non demokrasi," jelasnya. 

Berdasarkan data Aprisindo, nilai ekspor alas kaki Indonesia ke Negara Paman Sam tersebut mencapai US$1,33 miliar atau terbesar berdasarkan negara, disusul oleh Belgia senilai US$380 juta. 

Terkait dengan upaya pemerintah yang masih membicarakan penurunan bea masuk produk alas kaki ke Australia melalui Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA), Firman menilai apabila berhasil digolkan, terbuka peluang kenaikan ekspor ke Negara Kanguru.

Sepanjang 2017, ekspor alas kaki ke Australia masih cukup kecil, yaitu senilai US$90,5 juta atau hanya 1,9% dibandingkan dengan total nilai ekspor. "Peluang naik ada karena bea masuk berpengaruh untuk daya saing, tetapi perlu dilihat apakah pesaing seperti Vietnam dan China juga mendapatkan penurunan bea masuk atau tidak," ujarnya. 

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bertemu dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan AO pada minggu lalu. Dalam pertemuan tersebut, Airlangga menyatakan pemerintah masih meminta kemudahan ekspor produk tekstil, pakaian jadi, alas kaki, dan otomotif ke pasar Australia melalui perjanjian IA-CEPA.

Untuk produk tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki masih dikenakan bea masuk sebesar 10% hingga 17%, sedangkan produk otomotif akan diberikan fasilitas penurunan bea masuk apabila tingkat komponen Asean mencapai 40%.

Tag : alas kaki
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top