Setiap Tahun, Rp100 Triliun Melayang karena Pasien RI Berobat di Luar Negeri

Pengusaha rumah sakit swasta optimistis dapat menarik devisa sekitar Rp100 triliun yang hilang setiap tahunnya akibat masih banyaknya masyarakat Indonesia berobat di luar negeri.
Yanita Petriella | 03 Juli 2018 18:29 WIB
Instalasi Gawat Darurat (IGD) di rumah sakit. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Pengusaha rumah sakit swasta optimistis dapat menarik devisa sekitar Rp100 triliun yang hilang setiap tahunnya akibat masih banyaknya masyarakat Indonesia berobat di luar negeri.

 CMO Mayapada Healthcare Daniel Tjen mengatakan saat ini rumah sakit di Indonesia tengah melakukan perbaikan baik secara teknologi, sumber daya manusia di bidang kesehatan, maupun pelayanan rumah sakit untuk menarik pasien yang selama ini berobat di luar negeri.

 "Data dari Bank Dunia ada 1% masyarakat Indonesia berobat ke Malaysia, sedangkan 2% ke Singapura. Devisa kita yang hilang itu sekitar Rp100 triliun setiap tahunnya. Kami yakin bisa menarik itu semua ke Indonesia," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (3/7/2018).

 Pemerintah memang tengah mewajibkan agar standar pelayanan kesehatan masyarakat harus sama di setiap wilayah. Sehingga, APBN untuk sektor kesehatan dinaikkan sejak dua tahun lalu.

Sejak 2016, lanjut Daniel, alokasi sektor kesehatan di APBN mengalami kenaikan dari 2% menjadi 5% atau sekitar Rp120 triliun/tahun. Adapun, kontribusi pembiayaan dari pihak swasta melalui skema public private partnership (PPP) berjumlah Rp250 triliun/tahun.

Menurutnya, peralatan medis di rumah sakit Indonesia sebenarnya tidak kalah dibandingkan dengan di luar negeri. Dari sisi kualitas dokter umum maupun spesialis pun tak kalah karena mengikuti perkembangan yang ada.

"Soft skill yang kurang. [Tenaga medis seharusnya] Lebih bisa berkomunikasi dengan pasien agar pasien itu ada kepastian. Kelemahan lain yakni di keperawatan itu belum dipetakan dengan baik. Kami sedang akreditasi akademik perawat," terang Daniel.

Dia yakin dengan adanya perubahan di sisi teknologi dan sumber daya manusia akan membuat sektor kesehatan Indonesia dapat mengalahkan Singapura dalam dua dekade ke depan.

 Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Untung Suseno Sutarjo menuturkan memang saat ini sudah banyak rumah sakit daerah yang berbenah untuk menjadi rumah sakit internasional seperti di Denpasar, Palembang, Samarinda dan lainnya. "Rumah sakit swasta pun juga ikut berbenah," katanya.

Selain itu, pemerintah membangun 124 puskesmas modern di daerah perbatasan dan ternyata sudah mulai digunakan oleh penduduk Malaysia.

 "Rumah sakit pratama kami bangun juga diperbatasan. Maksudnya supaya rakyat yang tinggal di [wilayah] perbatasan mendapatkan pelayanan kesehatan sehingga tidak perlu ke negara tetangga," tuturnya.

 Dia tidak memungkiri saat ini banyak grup rumah sakit yang melakukan espansi ke daerah. Hal tersebut untuk meningkatkan efisiensi agar lebih murah dalam membeli obat-obatan, mendapatkan tenaga kesehatan, membagi kemampun manajerial antara rumah sakit.

 Untung berharap, dengan adanya ekspansi rumah sakit swasta ke daerah, masyarakat tidak perlu lagi berobat ke luar negeri. 

Tag : rumah sakit
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top