Depresiasi Rupiah Tak Pengaruhi Ekspor Alas Kaki

Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menilai depresiasi nilai tukar rupiah yang hampir menyentuh 6%, tidak serta merta dapat diikuti oleh kenaikan ekspor, terutama alaskaki.
M. Richard | 08 Juli 2018 18:10 WIB
Pengunjung memilih sepatu di pameran produk kulit - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA -- Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menilai depresiasi nilai tukar rupiah yang hampir menyentuh 6%, tidak serta merta dapat diikuti oleh kenaikan ekspor, terutama alaskaki.

Wakil Ketua Aprisindo Budiarto Tjandra mengatakan, secara teori harusnya pelemahan rupiah dikuti dengan peningkatan ekspor, tapi sayangnya hal tersebut tidak terlalu maksimal.

"Sedikit banyak akan menambah peluang ekpor, namun bukan secara signifikan," katanya kepada Bisnis.com, Minggu (8/7/2018).

Menurut perhitungannya, pelemahan rupiah terhadap dolar sekitar 6%, hanya berdampak sekitar US$0,2 hingga US$0,3 pada penurunan harga jual ekspor per pasang sepatu. Namun, hal tersebut juga baru dapat dirasakan, jika daya saing produk kita berhasil mengalahkan pesaingnnya, seperti sepatu dari Vietnam.

Direktur Eksekutif Aprisindo Firman Bakrie menambahkan, peningkatan ekspor yang sedikit akan semakin tidak signifikan, ditengah pelaku industri alas kaki yang masih bergantung pada 60% bahan baku impor. "60% bahan baku kita impor, jadi penguatan dolar itu hampir tidak terasa," tuturnya.

Di sisi lain, penguatan dolar malah akan sangat berpengaruh pada daya beli masyarakat dalam negeri, karena masih tingginya bahan baku impor secara otomatis akan menaikkan harga jual dalam negeri.

Meski demikian, dia mengapresiasi, langkah pemerintah yang dalam hal penyaluran tunjangan hari raya dan gaji ke-13 aparatur sipil negara (PNS), karena pelaku usaha berhasil mencatat peningkatan penjualan hingga 20% dibandingkan lebaran tahun lalu. 

Untuk dapat lebih memanfaatkan kondisi penguatan dolar, Budiarto berharap pemerintah dapat menyelesaikan sejumlah perjanjian dagang.

"Untuk daya saing ini, pemerintah kita harus berusaha agar adanya kerja sama dagang dengan mitra dagang utama, contohnya dengan Uni Eropa, karena pangsa pasar alas kaki di Eropa besar," katanya.

Selain itu, lanjutnya, pemerintah juga harus mampu memetakan setiap industri persepatuan domestik dari hulu hingga hilir. "[Dengan begitu] kita bisa membangun supply chain persepatuan sendiri di Indonesia, supaya bisa bersaing di masa yang akan datang," tuturnya.

Berdasarkan data Aprisindo yang diterima Bisnis, total nilai ekspor alas kaki Januari-April 2018 US$172,56 juta, atau naik 8,9% dari periode sama tahun lalu US$158,37 juta.

Tag : alas kaki
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top