Pembuluh Darah Jari Sebagai Identitas Biometrik

Tata letak pembuluh darah di jari ternyata unik, seperti sidik jari dan selaput pelangi.
Gombang Nan Cengka | 09 Juli 2018 11:55 WIB
Perangkat pemindai pembuluh darah jari produksi Hitachi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Pada dasarnya, cara pengamanan menggunakan sidik jari bisa dilakukan pada tiap ciri tubuh manusia lain yang unik. Sebagai contoh, kita bisa menggunakan pemindai selaput pelangi (iris), karena pola selaput pelangi di mata kita juga unik.

Para peneliti dari Edit Cowan University (ECU) Australia menemukan ciri tubuh manusia lain yang juga dapat dijadikan sebagai dasar sistem keamanan biometri: pola pembuluh darah di jari. Tata letak pembuluh darah di jari ternyata unik, seperti sidik jari dan selaput pelangi.

Menurut Wencheng Yang, salah satu peneliti dari ECU Security Research Institute dalam siaran persnya, meskipun sidik jari pada saat ini merupakan salah satu sistem keamanan biometri terbaik, sistem tersebut masih belum sempurna. Bukan rahasia lagi bahwa sidik jari bisa menempel di mana-mana, dan dapat dengan mudah direproduksi. Karena itu pemindai sidik jari perlu dilengkapi dengan pengaman lainnya seperti pola pembuluh darah.

Teknologi yang dikembangkan oleh para peneliti dari ECU ini menggabungkan pemindai sidik jari dengan pemindai pembuluh darah. Gambar pola pembuluh darah ditangkap menggunakan sensor inframerah, sehingga mengurangi kemungkinan orang membuat sistem yang meniru gambar pola pembuluh darah untuk menipu pemindai.

Fitur lain yang juga dikembangkan oleh Yang dan kawan-kawannya adalah pengamanan data biometri. Data hasil pemindaian tersebut disimpan setelah ditransformasi, dan hasil transformasi ini tidak dapat dibalikkan lagi. Akibatnya data biometri asli akan aman bila terjadi pembobolan oleh para peretas terhadap sistem pengamanan ini.

Sistem serupa sebenarnya juga sudah pernah dikembangkan oleh perusahaan Jepang Hitachi. Hanya saja Hitachi menggunakan kamera ponsel untuk mengambil pola penyebaran pembuluh darah. Di satu sisi penggunaan kamera ponsel membuat teknik ini lebih mudah diadopsi oleh para pembuat gadget, namun di sisi lain sistem ini lebih rentan terhadap pembobolan.

Sistem biometri ganda seperti ini diharapkan akan dapat diterapkan secara lebih luas dalam 5-10 tahun mendatang.

Hasil penelitian dari tim dari ECU ini rencananya akan diterbitkan dengan judul “A fingerprint and finger-vein based cancelable multi-biometric system” di jurnal ilmiah Pattern Recognition, edisi Juni 2018.

Tag : inovasi
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top