ITS Kembangkan Sistem Peringatan Dini Bahaya untuk Kapal

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan sebuah inovasi teknologi berupa sistem pencegahan dini pada kapal saat berada dalam zona berbahaya.
Peni Widarti | 10 Juli 2018 22:32 WIB
Institut Teknologi Sepuluh Nopember - Istimewa


Bisnis.com, SURABAYA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan sebuah inovasi teknologi berupa sistem pencegahan dini pada kapal saat berada dalam zona berbahaya.

Ketut Buda Artana, Wakil Rektor IV Bidang Inovasi, Kerjasama, Kealumnian, dan Hubungan Internasional ITS, mengatakan teknologi tersebut bernama Automatic Identification System ITS (AISITS) yang berfungsi sebagai alarm peringatan dini yang dapat meminimalisir kemungkinan bahaya-bahaya di laut.

"Inovasi yang dikembangkan bersama Kobe University Jepang ini dapat menampilkan data secara real time sebuah peringatan dini jika kapal mendekati zona bahaya, di mana AISITS akan mengirim alarm jika ia memasuki zona bahaya misalnya terdapat instalasi kelautan seperti pipa atau kabel bawah laut,” jelasnya dalam rilis Selasa (10/7/2018).

Dia mengatakan keselamatan lalu lintas laut selama ini telah menjadi isu penelitian penting di beberapa tahun terakhir karena tingginya angka kecelakaan maritim, terutama pada kasus tabrakan kapal laut.

Berdasarkan data statistik Lloyd's List Intelligence Casualty Statistics, kerugian tertinggi yang diakibatkan kecelakaan kapal pada rentang 2007-2016, terdapat di Laut China Selatan, Indochina, Indonesia termasuk di dalamnya dan juga Filipina.

Indonesia pun termasuk di dalamnya. Misalnya, permasalahan yang terjadi di Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) sebagai akses menuju pelabuhan terbesar kedua di Indonesia, yaitu Tanjung Perak.

APBS dikenal sebagai jalur padat lalu-lintas laut. Serta terdapat banyak instalasi pipa minyak dan gas milik berbagai macam perusahaan.

“Yang menjadi masalah adalah risiko terjadinya kecelakaan kapal yang melibatkan pipa-pipa tersebut,” ujarnya. 

Ketut menjelaskan, pipa bawah laut yang berada di wilayah APBS dengan jarak sekitar 100 meter di bawah permukaan laut sangat berisiko. Jika ada kapal karam maupun jangkar yang diturunkan mengenai pipa bisa mengakibatkan dampak yang lebih besar. 

“Seperti contoh kasus di teluk Balikpapan beberapa bulan lalu, jangkar kapal yang terbawah arus mengenai pipa minyak milik PT Pertamina dan menyebabkan kebakaran besar,” kata Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS ini. 

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top