Cegah Kebakaran Kapal Lagi, Pengembangan Pelabuhan Ikan Benoa Perlu Dipercepat

Pengembangan Pelabuhan Benoa disarankan agar dipercepat realisasinya untuk menghindari terulangnya peristiwa kebakaran sebanyak 40 unit kapal penangkap ikan tuna.
Feri Kristianto | 10 Juli 2018 16:29 WIB
Petugas pemadam kebakaran dan warga berusaha memadamkan api yang membakar kapal ikan di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, Senin (9/7/2018). - ANTARA/Fikri Yusuf

Bisnis.com, DENPASAR—Pengembangan Pelabuhan Benoa disarankan agar dipercepat realisasinya untuk menghindari terulangnya peristiwa kebakaran sebanyak 40 unit kapal penangkap ikan tuna.

Kadis Kelautan dan Perikanan (Diskelkan) Bali, Made Gunaja menilai kebakaran seperti yang terjadi pada Senin (9/8/2018) akan dapat dihindari apabila penataan di pelabuhan terbesar di Bali tersebut sudah dilakukan. Menurutnya, dengan rapatnya kondisi sandar antar kapal penangkap ikan membuat kobaran api menjadi lebih cepat.

“Itu persoalan [sandar kapal ikan] dulu sudah pernah dibahas zaman Menteri KKP Cicip, waktu itu Pelindo diminta menata pelabuhan dan diharapkan juga supaya kapal perikanan tertata baik. Sekarang informasinya RIP sudah ditetapkan ya kami imbau supaya Pelindo menata kembali pelabuhan disana,” jelasnya, Selasa (10/7/2018).

Diakuinya saat ini pelabuhan Benoa belum tertata dengan baik karena izin RIP baru turun. Gunaja mengharapkan penataan tidak hanya di sisi dermaga timur tetap segera dilakukan untuk dermaga perikanan di sisi barat pelabuhan. Sangat penting untuk menata kembali lokasi kolam labuh bagi perahu ikan agar posisi sandar kapal lebih tertata rapi.

Dia mengharapkan tidak terjadi lagi peristiwa kebakaran tersebut karena dalam hanya jeda satu minggu terjadi dua kebakaran. Beruntung, katanya, kebakaran sebelumnya yang menghanguskan sekitar 8 unit kapal terjadi di tengah tidak di lokasi kolam berlabuh. Gunaja juga mengharapkan setelah kejadian ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan mengevaluasi masalah perizinan.

Harapan itu terkait informasi dari 40 unit kapal yang terbakar, sebagian besar bekas kapal eks asing yang tidak bisa berlayar. Adapun kapal yang masih beroperasi normal hanya 10 unit. Menurutnya, perlu ada segera evaluasi menyangkut perizinan kapal khususnya di Bali.

“Kalau kapal besar supaya nanti agar melakukan evaluasi dari tim KKP. Evaluasi terhadap kegiatan yang ada di Bali khususnya perizinan kapal ini,” desaknya.

Gunaja memperkirakan dampak kebakaran tersebut terhadap jumlah hasil tangkapan di Bali akan kecil karena hanya 10 unit yang terbakar. Adapun jumlah kapal tangkap di Benoa sekitar 800 unit. Namun, diakuinya tetap ada dampak yang dialami khususnya terhadap ekspor ikan tuna Bali yang selama ini menjadi andalan.

Pada 2017 jumlah tangkapan ikan tuna segar di Benoa mencapai 8.029,16 ton, lebih tinggi pada 2016 yang hanya 5.691,70 ton. Ada sekitar 40 kapal yang terbakar di dergama barat Pelabuhan Benoa. Dari jumlah itu, 33 unit kapal milik anggota Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI), dan 10 diantarnya merupakan kapal aktif.

Tag : pelabuhan benoa, pelabuhan ikan
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top