Serangan Siber Pukul Reputasi Perusahaan

Makin banyak digitalisasi yang diadopsi oleh perusahaan, makin banyak pula celah yang terbuka.
Dhiany Nadya Utami | 11 Juli 2018 13:15 WIB
Ilustrasi kejahatan siber - Reuters/Dado Ruvic

Bisnis.com, JAKARTA — Ancaman serangan siber bukan lagi sekadar masalah teknis dan infrastruktur belaka, tapi menjadi ancaman langsung untuk bisnis. Apalagi seiring perubahan teknologi yang dinamis, pola serangan juga berubah.

Regional Vice President Sales South Asia, Akamai, Vaughan Woods mengatakan jika terkena serangan, bukan hanya sistem internal yang terdampak tetapi reputasi perusahaan juga mendapatkan efeknya.

“Akan sulit mengembalikan kepercayaan [klien] pada perusahaan,” katanya saat bertemu awak media di Jakarta, Selasa (10/7/2018).

Lebih lanjut, Woods mengatakan pola serangan saat ini terus berubah. Makin banyak digitalisasi yang diadopsi oleh perusahaan, makin banyak pula celah yang terbuka. Apalagi oleh para perusahaan internet yang berkompetisi sengit.

Paling anyar adalah serangan yang memanfaatkan teknologi bot. Dia mencontohkan teknologi bot kini banyak dimanfaatkan oleh e-commerce penyedia layanan reservasi hotel menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi menguntungkan karena membuat proses layanan jadi makin mudah dan efisien, sebaliknya menjadi ancaman.

“Kami pernah menangani kasus, di sistem [reservasi] ada satu hotel yang dinyatakan full booked tapi kenyataannya hotel tersebut kosong. Itu contoh salah satu serangan yang menggunakan bot,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Akamai Head of Security Technologies and Strategy Fernando Serto menambahkan bot memang tengah menjadi primadona. Menurutnya, dari seluruh trafik data yang terjadi saat ini separuhnya adalah trafik yang dilakukan oleh bot.

“Makanya kami saat ini mengembangkan sistem pertahanan yang dapat mendeteksi bot,” uajr Serto.

Di Indonesia sendiri, tambah Woods, ada banyak perusahaan internet yang menjadi mitra Akamai, salah satunya adalah Zalora.

Perubahan lain yang kini kerap terjadi adalah serangan pada individu. Serto menjelaskan kini para penyerang menargetkan individu atau organisasi kecil yang berhubungan dengan target utama mereka.

Karena tak menampakkan efek yang signifikan pada sang korban, serangan ini juga sering dianggap remeh. Padahal, biasanya serangan utama baru akan terjadi berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian.

“Data yang diambil dari serangan sebelumnya itu mengendap di deep web bertahun-tahun,” katanya.

Serto menyebut edukasi sebagai masalah utama yang terus tak terselesaikan. Menurutnya, sehebat apapun infrastruktur keamanan akan percuma  jika sumber daya manusianya masih lemah. Maka dari itu hal pertama yang biasanya mereka lakukan adalah memberikan pemahaman terhadap mitra mereka.

“Dari mulai mereka tak merasa diri mereka sebagai target, kami berikan kasus-kasus, hingga mereka akhirnya sadar kamu bisa juga menjadi target,” tuturnya.

Serto melihat kurangnya kesadaran itu juga terjadi di Indonesia, padahal menurutnya pertumbuhan internet dan teknologi di Tanah Air amat pesat. Namun, dia menyebut akan ada perubahan dari sektor pemerintah.

"Akan segera membaik," katanya tanpa memerinci apa rencana pemerintah terkait keamanan siber.

Tag : serangan siber
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top