Jika Tidak Melakukan Hal Ini, Ekspor Alas Kaki Indonesia Bisa Disalip Kamboja

Industri alas kaki dalam negeri harus meningkatkan daya saing agar tidak kalah oleh Kamboja sebagai pendatang baru di Asia Tenggara.
Annisa Sulistyo Rini | 12 Juli 2018 21:37 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan sandal dan sepatu di PT Aggiomultimex, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (25/9). - ANTARA/Umarul Faruq

Bisnis.com, JAKARTA—Industri alas kaki dalam negeri harus meningkatkan daya saing agar tidak kalah oleh Kamboja sebagai pendatang baru di Asia Tenggara.

Saat ini, peringkat Indonesia masih berada di bawah Vietnam sebagai eksportir terbesar di dunia. Vietnam menempati urutan kedua, setelah China, dengan nilai ekspor 15,34 euro pada tahun lalu. Sementara Indonesia berada di urutan keenam dengan nilai ekspor sebesar 4,5 euro.

Firman Bakri, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), mengatakan pada periode 2016-2017, ekspor alas kaki Kamboja tumbuh sebesar 400% mencapai US$1,8 miliar.  Apabila industri alas kaki dalam negeri tidak segera dibenahi, dikhawatirkan bisa disalip oleh negara tersebut.

“Industri alas kaki nasional perlu meningkatkan competitiveness karena harga akhir kan sangat berpengaruh. Tenaga kerja masih menjadi isu krusial karena industri ini adalah industri padat karya,” ujarnya, Kamis (12/7/2018).

Selain masalah tenaga kerja, asosiasi berharap pemerintah segera merampungkan hubungan dagang antar negara, seperti comprehensive economic partnership agreement (CEPA). Salah satu yang menjadi harapan industri alas kaki adalah CEPA dengan Uni Eropa karena kawasan ini menjadi tujuan utama ekspor selain Amerika Serikat.

Apabila aspek tersebut dapat diperbaiki, Firman meyakini industri alas kaki nasional akan lebih berdaya saing karena dari sisi politik, kondisi Indonesia masih lebih baik dibandingkan Vietnam dan Kamboja.

Tag : alas kaki
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top