Kontrak Penjualan Sawit Tingkatkan Hubungan Dagang RI-China

Kontrak pembelian produk Kelapa Sawit dan turunannya untuk setahun ke depan antara eksportir dari Indonesia dan importir dari China telah ditandatangani di Nanjing, China, pada Rabu, 11 Juli 2018.
Fitri Sartina Dewi | 13 Juli 2018 01:15 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Kontrak pembelian produk Kelapa Sawit dan turunannya untuk setahun ke depan antara eksportir dari Indonesia dan importir dari China telah ditandatangani di Nanjing, China, pada Rabu, 11 Juli 2018.

Total kontrak pembelian produk kelapa sawit dan turunannya yang ditandatangani sebesar 1,21 juta ton atau setara dengan US$ 726 juta.

Hasil penandatanganan kontrak pembelian tersebut disampaikan oleh Duta Besar RI untuk China Djauhari dan Director General of Department of Asian Affairs, Ministry of Commerce People’s Republic of China, Peng Gang.

Kontrak pembelian dilakukan oleh beberapa perusahaan Indonesia dan China seperti PT. Wilmar Nabati Indonesia, Cofco China, Yihai and Kerry Investment Co. Ltd., dan lainnya. Sekitar 1 juta ton hasil dari kontrak pembelian kelapa sawit dan turunannya ini berasal dari perkebunan sawit di Sumatera.

Dalam Seminar The China-Indonesia Palm Oil Trade and Promotion Djauhari menyampaikan bahwa Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar dunia saat ini, dan kelapa sawit terus memberikan dampak yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Kebutuhan dan permintaan kelapa sawit yang semakin meningkat dari Tiongkok, dapat dipenuhi Indonesia. Sehingga pengusaha Tiongkok dapat mempercayai kemampuan akan kualitas dan kuantitas produk kelapa sawit Indonesia dan turunannya,” ujarnya melalui siaran pers yang diterima Bisnis, Kamis (12/7/2018).

President China Chamber of Commerce of Import and Export of Foodstuffs, Native, Produce and Animal by Products (CFNA) Bian Zhen Hu menyampaikan bahwa promosi mengenai produk kelapa sawit harus tetap dipertahankan agar memiliki reputasi yang baik dan dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat di China.

Lebih lanjut, dia menyatakan CFNA bersedia menjembatani para pengusaha kedua belah pihak untuk meningkatkan perdagangan kelapa sawit kedua negara.

Sementara itu, Peng Gang menjelaskan bahwa perdagangan Indonesia dengan China terus mengalami peningkatan. Menurutnya, China akan terus membuka pasar mereka selebar-lebarnya kepada Indonesia dan dunia, bukan menutup pasar mereka dari produk impor.

Seperti diketahui, permintaan kelapa sawit Indonesia di China terus meningkat. Impor kelapa sawit Indonesia oleh China pada tahun 2017 mencapai US$2,21 milyar, sedangkan impor tahun 2016 adalah US$1,67 milyar. Ini menempatkan Indonesia sebagai importir kelapa sawit nomor satu bagi RRT.

Nilai tersebut diyakini berpeluang untuk terus meningkat mengingat permintaan industri dan masyarakat Tiongkok akan kelapa sawit dan produk turunannya yang terus bertumbuh.

Tag : minyak sawit, ri-china
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top