Terlibat Perang Dagang, Surplus Neraca Dagang China Dengan AS Justru Capai Rekor Baru

China mencatatkan surplus neraca dagang terbesar dengan AS di tengah penerapan kebijakan tarif impor baru oleh Negeri Paman Sam.
Annisa Margrit | 13 Juli 2018 12:57 WIB
Presiden China Xi Jinping (kiri) dan Presiden AS Donald Trump. - .Reuters/Toby Melville

Bisnis.com, JAKARTA -- China mencatatkan surplus neraca dagang terbesar dengan AS di tengah penerapan kebijakan tarif impor baru oleh Negeri Paman Sam.

Surplus neraca dagang dengan AS tercatat sebesar US$28,97 miliar pada Juni 2018, naik dari capaian bulan sebelumnya yang sekitar US$24,58 miliar. Secara keseluruhan, China mendapatkan surplus sebesar US$41,61 miliar pada Juni 2018.

Reuters melansir Jumat (13/7/2018), surplus ini merupakan yang tertinggi dengan AS untuk angka bulanan, setidaknya selama 10 tahun terakhir.

Pada Juni 2018, ekspor China naik 11,3% secara year-on-year (yoy) dan impor meningkat 14,1%.

Jika dilihat dalam periode Januari-Juni 2018, nilainya meningkat menjadi US$133,76 miliar atau lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$117,51 miliar.

Hal ini turut didorong oleh naiknya ekspor China ke AS sekitar 13,6% secara yoy pada semester I/2018. Adapun impor dari AS tumbuh 11,8%.

Seperti diketahui, AS dan China terlibat perang dagang setelah AS menerapkan tarif impor baru untuk produk baja dan aluminium, termasuk dari Negeri Panda. Kedua negara kemudian melakukan aksi saling balas dengan memberlakukan kenaikan tarif impor untuk ratusan hingga ribuan produk dari masing-masing negara.

Presiden AS Donald Trump mengklaim China menikmati surplus neraca dagang sebesar US$375 miliar pada 2017 dan meminta Beijing memangkasnya.

Meski demikian, Juru Bicara Bea Cukai China Huang Songping menyatakan realisasi perdagangan luar negeri China berisiko melambat pada semester II/2018.

Para analis memprediksi pengiriman akan melambat pada paruh kedua tahun ini sehingga bakal memberi tekanan lebih bagi perekonomian negara itu.

Sementara itu, investor khawatir perang dagang yang terus berlanjut dengan AS akan mengganggu kepercayaan bisnis dan investasi, mengganggu rantai pasok global, serta melukai pertumbuhan China dan dunia.

Bulan lalu, Kementerian Perdagangan China mengonfirmasi laporan bahwa para eksportir berlomba-lomba mengirimkan barangnya ke AS sebelum penerapan tarif impor dimulai. Situasi ini bisa mendasari perlambatan pengiriman menjelang akhir tahun.

Sumber : Reuters

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top