Industri Nasional Perlu Optimalkan Manfaat GSP dari AS

Pemerintah mendorong industri nasional yang belum memanfaatkan skema Generalized System of Preferences (GSP) agar dapat mengoptimalkannya.
Annisa Sulistyo Rini | 13 Juli 2018 09:32 WIB
Karyawan mengambil gulungan benang di salah satu pabrik tekstil yang ada di Jawa Barat. - JIBI/Rahmatullah

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah mendorong industri nasional yang belum memanfaatkan skema Generalized System of Preferences (GSP) agar dapat mengoptimalkannya.

GSP merupakan kebijakan Pemerintah AS untuk memberikan keringanan bea masuk terhadap impor barang-barang tertentu dari negara-negara berkembang.

“Jadi, produk-produk yang GSP-nya belum termanfaatkan, perlu kita sosialisasikan dan dorong supaya dimanfaatkan secara maksimal,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto dalam keterangan resmi, Kamis (12/7/2018).

Komoditas nasional yang memiliki keunggulan untuk masuk ke pasar AS, antara lain sayuran, bahan mentah agrikultur, perkayuan, stainless steel, karet, alas kaki, tekstil dan pakaian, serta barang konsumen.

Saat ini, Presiden AS Donald Trump tengah mengkaji kebijakan GSP tersebut karena dinilai membuat neraca perdagangan Negeri Paman Sam itu defisit. Program ini telah berlangsung sejak 1976, tetapi sempat dihentikan pada 2013 dan kembali diberlakukan pada Juni 2015.

Menurut Airlangga, Pemerintah AS selalu meninjau ulang skema GSP secara periodik dalam tiga tahun sekali. Tahun ini, Trump akan mengevaluasi sekitar 124 produk ekspor asal Indonesia, termasuk tekstil, plywood, kapas, serta beberapa hasil perikanan seperti udang dan kepiting.

Evaluasi itu dilakukan untuk menentukan produk apa saja yang masih layak menerima GSP. Apabila hasil dari evaluasi tersebut merekomendasikan Indonesia tidak lagi berhak atas fasilitas GSP, maka manfaat program tersebut yang sudah diterima Indonesia akan dihapuskan segera setelah rekomendasinya ditandatangani Trump sekitar November 2018 sampai awal 2019.

Pada 2011, Indonesia menjadi satu dari lima negara yang menikmati manfaat terbesar dari GSP AS, selain India, Thailand, Brasil, dan Afrika Selatan. Namun, sejak April 2018, AS mempertimbangkan ulang pemberian fasilitas itu untuk Indonesia dan India, terutama dari sudut pandang akses produk mereka di dua negara tersebut.

Menperin pun meminta agar pelaku industri di dalam negeri tidak perlu khawatir dengan kondisi tersebut.

“Komunikasi kami terus berjalan dengan Pemerintah AS. Pemerintah Indonesia juga akan melakukan sosialisasi terhadap eksportir kita yang produknya masuk ke dalam lingkup GSP,” paparnya.

Lebih lanjut, Airlangga menegaskan pemerintah fokus memperkuat perekonomian nasional dengan menjaga kestabilan politik, pendidikan dan keamanan.

“Kami akan memberi ketentraman kepada pelaku industri nasional agar iklim investasi bisa terus terjaga. Selain itu, berupaya untuk meningkatkan ekspor dan mengembangkan substitusi impor supaya perekonomian kita semakin kuat,” tuturnya.

Tag : industri, amerika serikat
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top