Industri Sawit Kekurangan Riset Entomologi

Perkebunan kelapa sawit masih minim dalam hal entomologi atau ilmu tentang serangga padahal serangan hama acapkali menyerang dan menjadi kendala bagi produksi.
Pandu Gumilar | 15 Juli 2018 16:35 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Perkebunan kelapa sawit masih minim dalam hal entomologi atau ilmu tentang serangga padahal serangan hama acapkali menyerang dan menjadi kendala bagi produksi.

Vice President of Sustainability PT Astra Agro Lestari Tbk Bandung Sahari mengatakan, industri minyak sawit memiliki andil yang signifikan dalam pengembangan ekonomi daerah dan nasional serta pengentasan kemiskinan di berbagai pelosok negeri. Namun faktor pembatas produksi khususnya serangan hama acapkali menjadi kendala di lapangan.

“Entomologi atau ilmu tentang serangga menjadi signifikan dalam industri kelapa sawit,” kata Bandung Sahari, dalam Acara Seminar Nasional PEI (Perhimpunan Entomologi Indonesia) yang bertema “Serangga untuk Pertanian Berkelanjutan dan Kesehatan Lebih Baik, Jumat(12/7/2018).

Menurutnya, tantangan terkini yang dihadapi oleh industri agribisnis seperti kelapa sawit salah satunya adalah hama. Hama mengganggu proses pertumbuhan tanaman sehingga produktivitas kelapa sawit menjadi turun. Hal ini tentu saja menyebabkan pendapatan petani plasma dan swadaya juga ikut menurun dan mengancam kesejahteraan masyarakat.

"Jika tidak segera ditangani dengan baik dalam jangka panjang akan mengancam keberlanjutan produktivitas minyak sawit dan lingkungan jika pestisida menjadi pilihan utama. Oleh karena itu penelitian yang menunjang pengendalian hama ramah lingkungan menjadi urgent," tegasnya.

Namun di sisi lain penggunaan pestisida kemungkinan dapat mengganggu proses polinasi atau penyerbukanpada kelapa sawit karena sangat bergantung dengan serangga. Tidak efektifnya penyerbukan menyebabkan banyaknya buah partenokarpi atau tidak berbiji dengan kandungan minyak yang rendah.

Ketua Perhimpunan Entomologi Indonesia, Damayanti Buchori mengatakan, dari penelitian global serangga polinator sedang mengalami penurunan populasi global. Penelitian itu juga mengungkap bahwa penurunan populasi serangga penyerbuk akan berdampak pada pangan, termasuk juga tanaman kelapa sawit.

“Ketidakadaan serangga penyerbuk bisa menjadi masalah yang berat bagi tanaman kelapa sawit. Hal ini juga perlu menjadi perhatian serius stakeholder industri kelapa sawit," tegasnya.

Damayanti Buchori juga mengatakan, riset-riset entomologi untuk sawit perlu dikembangkan lebih lanjut. Selain untuk menjaga tanaman budidaya, juga pada akhirnya memberikan manfaat kepada masyarakat. Menurutnya, Indonesia memiliki ahli-ahli serangga yang mumpuni, hanya saja masih sedikit yang menekuni sawit.

"Ke depan keterlibatan lebih banyak para ahli serangga ini dalam menghasilkan temuan-temuan baru yang bisa diaplikasikan untuk pengendalian hama ramah lingkungan," katanya.

Pengamat Entomologi, Siti Herlinda pun mengamini bahwa penelitian mengenai serangga pada industri kelapa sawit saat ini masih sangat sedikit. “Saat ini, Malaysia terdepan dalam penelitian tentang serangga pada kelapa sawit. Kita masih banyak mengggunakan penelitian-penelitian dari Malaysia,” katanya.

Herlinda mengatakan pengendalian hama sawit perlu pendekatan holistik secara lanskap dengan pengolaan habitat dan relung musuh alami hama tersebut. Sehingga konservasi musuh secara luas efektif mengendalikan hama sawit.

Tag : kelapa sawit
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top