Indonesia Perlu Maksimalkan Wisatawan dari Asia Tengah

Indonesia akan menggarap pasar wisatawan mancanegara asal Asia Tengah yang diproyeksikan mencapai 1 juta orang per tahun.
Yanita Petriella | 26 Juli 2018 00:33 WIB
Uzbekistan - www.adb.org

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia akan menggarap pasar wisatawan mancanegara asal Asia Tengah yang diproyeksikan mencapai 1 juta orang per tahun.

Ketua Penyelenggara Visit Wonderful Indonesia (ViWI) 2018 Hariyadi Sukamdani mengatakan Asia Tengah menjadi pasar yang menarik untuk digarap dalam mempromosikan pariwisata Tanah Air.

Di Asia Tengah terdapat lima negara yakni Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan.

"Asia Tengah ini belum tergarap maksimal, padahal potensinya bisa mencapai 1 juta wisman dari total penduduk yang mencapai 50 hingga 60 juta orang," ujarnya kepada Bisnis di Jakarta pada Rabu (25/7/2018) malam.

Untuk menggarap peluang wisman asal Asia Tengah ini dilakukan dengan membuka penerbangan langsung menuju ke Indonesia. Saat ini penerbangan langsung dari Asia Tengah baru menuju ke Malaysia saja.

"Di Uzbekistan, contohnya, bandaranya masih sepi sehingga saya kira cost handling ground-nya murah sehingga tiketnya murah. Saya akan mencari maskapai yang mau penerbangan langsung dari sana ke Indonesia dan sebaliknya," tuturnya.

Pemerintah Uzbekistan juga telah memberi keistimewaan kepada Indonesia dengan diberikan bebas visa dari tujuh negara yang terpilih yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Jepang, Turki, Korea Selatan, dan Israel. "Bebas visa membuat wisatawan dari sana banyak ke Indonesia," kata Hariyadi.

Dalam kesempatan yang berbeda, Ketua Umum Yayasan Sahid Jaya Nugroho B. Sukamdani menuturkan pemerintah Uzbekistan dalam 2 tahun ini sangat gencar dalam pembangunan sektor pariwisata.

"Prasarana dan sarana wisata dibangun dalam rangka menunjang pariwisata. Negara ini memiliki potensi objek wisata yang sangat besar. Memiliki sejarah Jalur Sutra yang terkenal. Apalagi di negara ini lahir dan dimakamkan Imam Besar Bukhari," ucapnya.

Untuk meraih peluang yang besar dalam mempercepat pembangunan pariwisia di kedua negara, diperlukan Sumber daya manusia yang handal, kompeten dan professional.

"Kami lakukan penandatanganan MoU di bidang yang sangat strategis yakni pariwisata dengan Silk Road International Tourism University pada 21 Juli lalu," tuturnya.

Nugroho yakin kegiatan pariwisata antar kedua negara yakni Indonesia dan Uzbekistan mampu menggerakkan kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik yang besar dalam sistem internasional.

Kerja sama tersebut, lanjutnya, dengan melakukan pelatihan tenaga dosen dan tenaga akademik diirencanakan mulai bulan Februari 2019. Lalu dilakukan program double degree yakni sistem pembelajarannya bagi mahasiswa Indonesia 3 tahun di Indonesia 1 tahun di Uzbekistan.

"Sebaliknya mahasiswa Silk Road International Tourism University 3 tahun di Uzbekistan 1 tahun di Indonesia. Setelah selesai mereka mendapatkan dua ijazah. Selain itu, ada pertukaran tenaga dosen, kerja sama bidang penelitian," ujarnya.

Nugroho menambahkan program studi yang akan dikerjasamakan meliputi bidang pariwisata, kewirausahaan, bisnis, manajemen, dan teknologi pangan.

Sebelumnya, Unsahid juga bekerja sama dengan Beijing Normal University dalam berbagai bidang sebagai langkah pengembangan bisnis ke depan khususnya sektor pariwisata.

Tag : pariwisata
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top