Yohanes Sugihtononugroho: Tak Punya Akses Modal, Petani hanya Jadi Pekerja

PT Crowde Membangun Bangsa atau Crowde merupakan salah satu perusahaan rintisan yang berplatform menghimpun dana dari masyarakat sebagai modal kerja petani. Untuk membahas rencana pengembangan bisnis dan target kinerja perusahaan, Bisnis berkesempatan mewawancarai CEO & Co-Founder PT Crowde Membangun Bangsa Yohanes Sugihtononugroho.
(Oktaviano Donald Baptista/Fitri Sartina Dewi) | 31 Juli 2018 12:14 WIB
CEO PT Crowde Membangun Bangsa (Crowde) Yohanes Sugihtononugroho - Bisnis/Crowde

Bisnis.com, JAKARTA – PT Crowde Membangun Bangsa atau Crowde merupakan salah satu perusahaan rintisan yang berplatform menghimpun dana dari masyarakat sebagai modal kerja petani. Untuk membahas rencana pengembangan bisnis dan target kinerja perusahaan, Bisnis berkesempatan mewawancarai CEO & Co-Founder PT Crowde Membangun Bangsa Yohanes Sugihtononugroho. Berikut petikannya:

Bagaimana ide awal pendirian Crowde?

Crowde mulai beroperasi pada September 2015, dan ide pendirian Crowde berawal dari masalah yang ada di sektor pertanian Indonesia. Saya mulai sadar sejak ada sebuah kegiatan di SMA dan kegiatan community development saat kuliah.

Ada persoalan mengapa Indonesia yang negara agraris, dan seluruh penduduk di Indonesia perlu makan setiap harinya, tetapi petani merupakan orang yang menjadi tulang punggung justru hanya menjadi pekerja dengan pendapatan terendah di antara industri lain?

Hal itu yang membuat saya prihatin dan mulai berkeliling dari satu desa ke desa lain untuk mencari tahu secara langsung dari para petani, kenapa hal itu bisa terjadi? Ternyata yang menjadi kendala utama bagi mereka adalah kurangnya akses permodalan.

Mengapa perusahaan lebih fokus menyasar segmen petani?

Crowde ada untuk membantu petani. Jadi, kami bukan lebih fokus menyasar segmen petani. Namun, kami membuat daftar permasalahan di sektor pertanian Indonesia yang sangatlah banyak, sehingga kami memutuskan untuk menjadi salah satu solusi bagi permasalahan yang dialami para petani.

Apa saja tantangan yang dihadapi saat pertama kali beroperasi?

Konsep yang kami tawarkan ini sebenarnya sudah mendapatkan banyak pertentangan, karena banyak sekali investasi bodong yang mengatasnamakan pertanian, sehingga industrinya menjadi sangat keruh. Para pemodal sangat sulit percaya apakah sang petani akan melakukan seluruhnya sesuai amanah yang telah disepakati.

Dari pihak petani juga tidak kalah pelik. Mereka sangat sulit memercayai orang baru bagi mereka, karena mereka sudah sering kali diberi harapan palsu mulai dari kalangan pemerintah sampai instansi yang membuat adanya barrier to entry. Dengan demikian, perlu waktu untuk membuat mereka memercayai sistem yang kami tawarkan.

Bagaimana strategi perusahaan menembus pasar ketika pertama kali hadir?

Sebagai platform, kami selalu memiliki dua customer yaitu petani dan pemodal. Dari sisi petani, yang kami butuhkah hanya satu orang petani yang berani untuk mencoba menggunakan Crowde.

Setelah itu, kami coba mengubah hidupnya ke arah yang lebih baik. Dari sana, dengan sendirinya, para rekannya mulai melihat perubahannya dan mulai tertarik untuk mencoba. Sementara itu, dari sisi pemodal, kami mulai dari teman dan keluarga terlebih dahulu, kemudian menggunakan berbagai forum di media sosial untuk mulai mempromosikan konsepnya.

Mengapa Crowde belum memberikan pelayanan di Maluku, Papua dan Nusa Tenggara?

Ada beberapa hal yang membuat kami belum memasuki daerah tersebut, walaupun sebenarnya memilki potensi yang luar biasa dan petaninya membutuhkan bantuan.

Hambatannya mulai dari belum siapnya infrastruktur yang menopang dari sisi supply dan demand, juga kesiapan human resource-nya untuk menerima sistem pendanaan seperti Crowde.

Bagaimana strategi untuk mencapai target penyaluran US$10 juta pada 2018?

Strateginya adalah dengan cara peningkatan kualitas petani dan proyek pertanian, karena dengan edukasi yang lebih mendalam membuat petani memiliki hasil yang meningkat dari sisi kuantitas maupun kualitas.

Dengan demikian, petani pun lebih sejahtera dan akan terus melebarkan usahanya. Proyek yang memberikan peforma baik tentu akan menarik lebih banyak pemodal untuk terus memberikan pendanaan dan mendukung para petani Indonesia melalui Crowde.

Bagaimana meyakinkan investor maupun petani untuk memanfaatkan Crowde?

Petani dan investor merupakan orang yang pragmatis. Dengan begitu, cara kami meyakinkannya ialah dengan memberikan bukti kinerja kami, meningkatkan layanan, dan terus memberikan pengaruh atau dampak yang berkesinambungan.

Apa saja nilai lebih yang ditawarkan kepada peminjam dan investor?

Dari sisi petani, kami berupaya menjadi partner mereka mulai dari pengembangan pola pikir petani, pendanaan, dan pembentukan ekosistem pertanian secara lokal. Ini untuk membantu petani menjual kepada para end user sehingga mendapat margin yang lebih baik.

Dari sisi pemodal, kami terus berupaya meningkatkan layanan dengan melakukan transparansi pada setiap kegiatan yang terjadi sehingga pemodal dapat dengan jelas melihat kemana uang mereka terpakai.

Bisakah Anda jelaskan mengenai langkah-langkah yang dilakukan untuk mencegah terjadinya fraud atau gagal bayar?

Langkah-langkah yang kami lakukan mulai dari personal analysis hingga project analysis, yang meliputi history orang tersebut, hingga pertimbangan mengenai risiko dari setiap tanaman. Kami juga memberikan informasi yang dibutuhkan para pemodal sebelum memutuskan untuk memberikan pinjaman.

Akan tetapi, terbentuknya ekosistem yang terdiri dari setiap stakeholder di dalamnya adalah partner kami, sehingga risk bisa semakin diperkecil.

Bagaimana Anda memandang perkembangan industri P2P lending di Tanah Air?

Industri P2P lending semakin berkembang ke arah yang sangat baik, pemerintah pun mulai meregulasi, sehingga industrinya menjadi lebih siap untuk menerima perubahan atau hal baru.

Banyaknya pemain baru membuat industrinya semakin menarik, karena market yang ada masih sangat luas. Setiap pemain pun memiliki cara sendiri dan target pasar yang spesifik, membuat persaingan menjadi menarik.

Apa saja yang menjadi tantangan dan peluang bisnis P2P lending ini ke depan?

Tantangannya adalah harus menjadi sebuah bisnis yang bisa menyelesaikan masalah si penggunanya, karena ke depannya akan semakin banyak pemain besar baik yang berasal dari dalam negeri, maupun luar negeri yang akan masuk.

Sebagai startup, kami harus menjadi yang paling mengerti akan kebutuhan konsumen agar mereka tidak lari ke pihak lain.

Apa harapan Anda terhadap pemerintah untuk mendorong pertumbuhan P2P lending?

Regulasi digunakan untuk menjaga, tetapi jangan sampai mempersulit para pemain baru yang ingin masuk ke industrinya, karena terhalang banyak sekali regulasi. Pemerintah dan regulator harus memberikan perilaku yang adil kepada para pelaku industri baik pemain lama maupun baru.

Sebagai pimpinan perusahaan, apa mimpi besar Anda untuk Crowde?

Kami ingin kehidupan para petani di Indonesia menjadi jauh lebih baik dengan platform Crowde. Melalui semangat gotong royong atau dengan patungan ini bisa mulai menggerakkan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Sebagai perusahaan yang menggunakan teknologi, kami akan terus mempermudah kehidupan petani dan bidang agriculture di Indonesia dengan teknologi yang sederhana, tetapi memiliki manfaat yang besar.

Apa saja langkah yang Anda lakukan untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan nyaman bagi karyawan?

Saya selalu berupaya memastikan kebutuhan dasar karyawan terpenuhi. Hal yang berbeda di Crowde adalah setiap yang masuk ke dalam lingkungan perusahaan, mereka adalah keluarga kami, dan kami perlakukan layaknya keluarga.

Saya berupaya membuat karyawan bisa menganggap Crowde sebagai rumah yang nyaman bagi mereka. Komunikasi dan transparansi dalam setiap masalah selalu saya tekankan kepada karyawan untuk menghindari sikap saling berbicara di belakang, karena hal tersebut tidak akan menyelesaikan permasalahan.

Tag : petani
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top