Produksi Terancam Puso, Harga Gabah Patut Diwaspadai

Produksi beras pada tahun ini terancam puso akibat kemarau dan dihantui oleh hama wereng. Akibatnya harga gabah kering panen di tingkat petani meningkat dan program serap gabah pemerintah terancam gagal.
Pandu Gumilar | 01 Agustus 2018 20:20 WIB
Petani menjemur gabah di tempat pengeringan gabah, di Karanganyar, Jawa Tengah, Rabu (7/2/2018). - ANTARA/Mohammad Ayudha

Bisnis.com, JAKARTA – Produksi beras pada tahun ini terancam puso akibat kemarau dan dihantui oleh hama wereng. Akibatnya harga gabah kering panen di tingkat petani meningkat dan program serap gabah pemerintah terancam gagal.

Ketua Umum Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa mengatakan bahwa pada tahun ini meskipun petani mendapatkan harga yang relatif baik yakni lebih dari Rp4.500 per kg untuk gabah kering panen (GKP). Sejatinya, petani tetap rugi karena produktivitas lahannya menurun akibat musim kering tahun ini.

Dwi mengatakan dari Jawa sebagai sentra produksi beras di Indonesia yang mengalami kekeringan paling hebat. Bahkan di beberapa daerah, produktivitas lahannya menurun sampai dengan 40% pada Juli.

“Harga memang bagus tapi tidak serta merta dapat dikatakan petani mendapat untung karena saat ini petani mengalami penurunan produksi akibat kekeringan. Penurunan bahkan mencapai 20%--60% produksi normalnya di beberapa tempat. Biasanya itu produksi masa tanam kedua lebih besar seperti tahun lalu. Tapi, tahun ini masa tanam pertama bagus sedangkan masa tanam kedua terancam kekeringan dan hama wereng tikus,” katanya pada Rabu (1/8).

Sejauh ini AB2TI, katanya, masih mengkaji seberapa besar dampak kekeringan dan hama terhadap produksi beras 2018. Namun dia meyakini produksi tahun ini tidak akan lebih baik daripada tahun lalu.

Menurutnya, pemerintah harus dapat membaca situasi terkini tentang produksi gabah karena ada kemungkinan terjadinya kekurangan pasokan dari petani ke penggilingan. Terdapat kecemasan di pedangang-pedagang tidak kedapatan gabah dari petani, akibatnya baik gabah kering panen, gabah kering giling [GKG] dan gabah kualitas rendah harganya naik.

“Harga [gabah] naik semua dalam berbagai tingkat kualitas di selurun wilayah rata-rata naik semua. Ini ada kecemasan di kalangan di pedagang-pedagang gabah karena situasinya tidak begitu baik. Prognosis produksi tidak begitu baik, terutama pasca juli 2018. Di tempat-tempat tertentu, seperti Lamongan agak unik karena harga GKG sama dengan GKP padahal biasanya GKG lebih tinggi dari GKP,” katanya.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh AB2TI dari 43 kabupaten, harga rata-rata GKP di tingkat petani sekitar Rp4.779 per kg. Terjadi peningkatan sebesar Rp500 per kg dibandinkan dengan bulan Juni yakni Rp4.298 per kg. Peningkatan harga GKP karena per bulan Juli pemerintah sudah tidak mengintervensi pasar dan petani juga mulai melepas stok simpanan gabah pada masa tanam pertama di April—Mei.

Nah, mulai Juli—Januari Dwi memprediksikan harga gabah akan terus naik sampai januari 2019. Apalagi dengan kemungkinan gagal panen akibat kemarau dan hama wereng.

Selain itu rupanya bantuan pemerintah berupa bantuan benih gratis dengan alokasi anggaran Rp1 triliun pada 2018 dan bantuan dana sebesar Rp3,68 triliun untuk pengadaan alsintan tidak berdampak signifikan. Faktanya, kata Dwi, biaya produksi justru naik daripada tahun 2016.

“[Pemberian bantuan] tidak terlalu signifikan karena biaya produksi naik. Per Januari 2018 biaya produksi itu Rp4.286 per kg GKP sedangkan pada September 2016 itu Rp4.199 per kg,” katanya.

Hal ini tentu saja akan berakibat pada program Target Pengadaan Setara Beras atau serap gabah (Sergap) sebesar 2, 7 juta ton.

“[Target serap gabah] pemerintah tidak akan pernah tercapai selama inpres tidak diubah karena harga pembelian sudah diatas Rp3.700 per kg dengan relaksasi 10%,” katanya.

Tag : padi, gabah
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top