Adaro Tak Alami Kendala Gunakan Biosolar B20

emerintah terus mendorong penggunaan campuran 20% bahan bakar nabati dari minyak sawit dan Solar atau B20 ke sektor nonsubsidi, termasuk sektor industri pertambangan.
Denis Riantiza Meilanova | 12 Agustus 2018 20:36 WIB
Aktivitas di area pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia, di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah terus mendorong penggunaan campuran 20% bahan bakar nabati dari minyak sawit dan Solar atau B20 ke sektor nonsubsidi, termasuk sektor industri pertambangan. 

Salah satu perusahaan tambang yang sudah menerapkan penggunaan bauran 20% biodiesel dan 80% Solar (B20) tersebut pada kendaraan alat berat untuk pertambangan adalah PT Adaro Energy Tbk.

Adaro telah menjalankan proyek percontohan program pengembangan B20 dari minyak sawit sejak 2011.

Supervisor Biodiesel Fuel Plant Adaro Kharis Pujiono mengungkapkan, program pengembangan B20 itu kerja sama antara Adaro, Komatsu, dan United Tractors. Kendaraan yang diuji coba itu menggunakan campuran B20 berupa alat berat (dump truck) pengangkut batu bara.

"Percobaan pertama di dua unit alat berat, yaitu untuk dump truck tipe HD785," ujarnya dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Minggu (12/8).

Kharis menambahkan, kapasitas pabrik biodiesel Adaro mampu memproduksi perpaduan Solar dengan minyak sawit sekitar 6.400 liter per hari. Konsumsi masing-masing unit dari dump truck mencapai hingga 3.600 liter per hari. "Kalau kapasitas pabrik itu 1,1 ton per hari, kalau dicampur dengan CPO [minyak sawit mentah] menjadi 5,5 ton per hari," jelasnya.

Selain uji coba menggunakan minyak sawit, Kharis menuturkan bahwa mulai 2016, Adaro juga melakukan uji coba mengolah minyak jelantah menjadi campuran Solar sebesar 20% yang diterapkan pada enam unit kendaraan kecil dengan kapasitas mesin 2000 cc, dengan konsumsi per unit sekitar 350 liter dalam setahun.

"Minyak jelantah dipasok dari lingkungan tambang, seperti minyak (bekas) katering yang ada di Adaro, yang digunakan karyawan sehari hari," kata Kharis.

Menurutnya, sejak uji coba tidak ada keluhan dari para pengemudi dalam penggunaan B20. Bahkan, ada yang menginformasikan, kendaraan yang menggunakan B20 lebih irit. "Ini yang masih kami analisis, kami analisis konsumsi harian berapa, dan masih ada evaluasi dalam waktu dekat ini," katanya.

Pada tahap awal, konsumsi B20 diwajibkan kepada kendaraan bersubsidi atau public service obligation (PSO), seperti kereta api. Nantinya, pemberlakuan B20 akan diterapkan di semua sektor termasuk industri manufaktur, pertambangan, pembangkit listrik hingga kendaraan pribadi. Pemerintah berharap agar pada awal September ini B20 sudah bisa mulai diterapkan.

Tag : adaro
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top