80 Layar Bioskop Baru Siap Beroperasi Tahun Ini

Jumlah layar bioskop di Indonesia diperkirakan bertambah sebanyak 80 unit menjadi total 1.680 layar lebar hingga akhir tahun ini.
Yanita Petriella | 19 Agustus 2018 18:46 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Jumlah layar bioskop di Indonesia diperkirakan bertambah sebanyak 80 unit menjadi total 1.680 layar lebar hingga akhir tahun ini.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengatakan jumlah layar bioskop yang ada di Tanah Air sejatinya masih jauh dari kebutuhan masyarakat. Idealnya, jumlah layar bioskop yang memenuhi kebutuhan di Indonesia adalah sebanyak 9.000 layar.

“Layar bioskop belum memenuhi kebutuhan dengan jumlah penduduk sebanyak 250 juta jiwa. Layar bioskop sudah mencapai 1.600 layar saat ini. Pada 2015 baru 1.100 layar, tentu ada peningkatan," ujarnya, akhir pekan lalu.

Dia memperkirakan, hingga akhir tahun akan ada tambahan 80 layar bioskop di Indonesia. Saat ini, Lotte Cinema tengah mengembangkan bioskop yang dijadikan proyek pilot di Jakarta sebelum membangun di kota lainnya.

"Tambahan 80 layar ini [berasal dari] bermacam-macam [investor]. Ada dari Cinema 21, Blitz, dan untuk yang dari Korea Selatan baru 1 dulu dibangun di kawasan Fatmawati," kata Triawan.

Pada 2020, pemerintah menargetkan untuk bisa mencapai setidaknya 2.400 layar. Untuk itu, Bekraf tengah berupaya mendorong pembukaan layar baru agar tidak melulu berpusat di Jawa.

Menurut Triawan, pembangunan layar bioskop baru saat ini sudah cukup merata dalam menjangkau kota-kota kecil.

"Bukan hanya di mal, tapi kota-kota kecil memang sudah ada. Nemun, memang jumlahnya enggak terlalu banyak. Masyarakat sangat ingin nonton film nasional tapi enggak ada bioskop," ucapnya.

Sekadar catatan, saat ini, pemain bioskop jaringan di Indonesia antara lain 21/XXI/IMAX, CGV Blitz, Cinemaxx, dan Platinum dengan proporsi terbesar dikuasai oleh grup 21/XXI/IMAX.

"Cinema 21 ada 1.000 layar, lalu sisanya sebanyak 600 layar itu CGV, Blitz, Cinemaxx, Platinum dan lainnya," tutur Triawan.

Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Sjafruddin menuturkan sektor perfilman berkontrobusi sebesar 0,16% terhadap total PDB ekonomi kreatif. Namun, pertumbuhan industri perfilman mencapai rata-rata 6,68% per tahun.

Dia mengatakan, sebanyak 24% investasi di sektor perfilman berasal dari modal dalam negeri. Artinya, mendukung industri perfilman sama saja dengan mendukung penanaman modal dalam negeri yang lebih besar.

"Prospek bisnis perfilman terus meningkat ditunjukkan oleh produksi film-film nasional yang mulai mengambil porsi di bioskop-bioskop Indonesia," ucapnya.

Dia menyebutkan untuk mendirikan satu layar bioskop membutuhkan biaya yang besar yakni Rp2 miliar untuk bioskop independen, hingga Rp6 miliar untuk bioskop yang besar. Sebanyak Rp1,2 miliar di antaranya dihabiskan untuk memodali proyektor dan sistem suara.

Untuk itu, lanjutnya diperlukan insentif berupa keringanan tarif listrik dan perpajakan bagi investor layar lebar. Pasalnya, saat ini pajak hiburan tontonan belum memiliki standar yang sama di setiap daerah, ada yang menerapkan 10%, 25%, hingga 30%.

Tag : bioskop
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top