AP I Pertahankan Pendapatan Non-Aeronautika Hingga 40%

PT Angkasa Pura I (Persero) akan mempertahankan persentase pendapatan non-aeronautika sekitar 40% dari total pendapatan usaha pada tahun ini meskipun pendapatan aeronautika terus meningkat.
Rio Sandy Pradana | 20 Agustus 2018 01:53 WIB
Suasana di dalam terminal baru Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (7/6/2018). Bandara ini dikelola PT Angkasa Pura I. - Bisnis/Yustinus Andry

Bisnis.com, JAKARTA – PT Angkasa Pura I (Persero) akan mempertahankan persentase pendapatan non-aeronautika sekitar 40% dari total pendapatan usaha pada tahun ini meskipun pendapatan aeronautika terus meningkat.

Direktur Pemasaran dan Pelayanan AP I Devy Suradji mengatakan potensi kenaikan pendapatan aeronautika disebabkan oleh peningkatan kapasitas penumpang sejumlah terminal bandara, salah satunya Bandara Ahmad Yani di Semarang.

Hal tersebut akan menjadikan pendapatan aeronautika dari tarif pelayanan jasa penumpang pesawat udara (PJP2U) atau passenger service charge (PSC) melonjak.

"Saya tidak bisa menahan kenaikan pendapatan aeronautika, secara otomatis gap dengan non-aeronautika akan melebar. Namun, kami berupaya agar porsi non-aeronautika tetap sekitar 40%," ungkap Devy pada Minggu (19/8/2018).

Berdasarkan laporan keuangan AP I pada semester I/2018, bisnis aeronautika berkontribusi sekitar 59,1% dari total pendapatan atau sebesar Rp2,3 triliun. Angka tersebut naik 18,3% dibandingkan dengan pencapaian semester I/2017 yang Rp2 triliun.

Sementara itu, pendapatan bisnis non-aeronautika tercatat Rp1,5 triliun, naik 10% dari periode yang sama pada tahun lalu Rp1,35 triliun. Jumlah tersebut hanya berkontribusi 40,9% dari total pendapatan usaha.

Bisnis aeronautika meliputi pelayanan jasa pendaratan, penempatan, dan penyimpanan pesawat udara (PJP4U), PJP2U, aviobridge, check-in counter, dan baggage handling system.

Adapun, bisnis non-aeronautika meliputi sewa ruang, sewa tanah, perhotelan, konsesi (duty free, makanan, dan minuman), reklame, parkir, lounge, kegiatan promosi, dan lainnya.

Dia menambahkan bisnis non-aeronautika tetap memerlukan jumlah penumpang (pax) agar tetap berjalan. Salah satu upaya untuk menarik penumpang adalah dengan membuat bandara semakin nyaman melalui renovasi atau pengembangan kapasitas.

Akan tetapi, kenaikan jumlah penumpang akan membuat jumlah pendapatan aeronautika juga semakin tinggi. Hal tersebut menjadikan pendapatan aeronautika sulit untuk diimbangi oleh bisnis non-aeronautika.

Peningkatan kedua lini usaha tersebut, ujar Devy, tetap harus diupayakan untuk menutup biaya investasi yang telah dikeluarkan AP I. Tahun ini pengelola 13 bandara di wilayah tengah dan timur Indonesia tersebut mengalokasikan dana investasi hingga Rp18,8 triliun.

Dana investasi tersebut dengan perincian Rp14,8 triliun untuk pengembangan bandara dan Rp4 triliun untuk operasional rutin.

Tag : angkasa pura i
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top