PERSPEKTIF: Industri Domestik di Tengah Tantangan Ekonomi Global

Jika skema true localization ini bisa dikembangkan secara lebih luas, penghematan devisa tentu akan menjadi lebih besar dan upaya pendalaman struktur industri juga bisa dicapai.
Warih Andang Tjahjono, Presdir Toyota Motor Manufacturing Indonesia | 21 Agustus 2018 11:23 WIB
Warih Andang Tjahjono, Presdir Toyota Motor Manufacturing Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Tidak bisa disangkal, bahwa kini kondisi ekonomi global tengah berproses menuju keseimbangan baru. Persaingan ketat baik antarkawasan hingga lintas regional semakin mewarnai percaturan perdagangan internasional.

Banyak negara terindikasi mengejar posisi sebagai negara industri sehingga terjadi letupan-letupan perang dagang yang bertolak belakang dengan suasana perdagangan bebas yang sebelumnya menjadi tolak ukur perdagangan internasional.

Industri adalah salah satu kunci penting pertumbuhan ekonomi sebuah negara karena menyerap tenaga kerja yang mendorong peningkatan daya beli sehingga pada akhirnya akan terefleksi pada pertumbuhan ekonomi.

Untuk mempercepat pertumbuhan industri, salah satunya dengan sebanyak mungkin mendatangkan investasi ke dalam negeri yang membawa negara-negara berlomba-lomba untuk menggaungkan beragam janji kemudahan berinvestasi demi menarik sebanyak mungkin investasi ke dalam sebuah negeri.

Selain itu, dengan alasan melindungi kepentingan perekonomian dalam negeri, upaya-upaya proteksi juga semakin marak.

Perubahan kondisi ekonomi global ini tentunya akan berdampak pada kondisi ekonomi domestik, menuntut pelaku bisnis dan industri untuk mampu melakukan antisipasi dan selalu berada di depan tren global agar tetap dapat berkontribusi pada bangsa Indonesia.

Substitusi Impor

Seperti diberitakan berbagai media, Presiden Jokowi melalui rapat terbatas pada akhir Juli lalu, telah memberikan arahan yang jelas kepada menteri anggota Kabinet Kerja untuk menyiapkan kebijakan yang bisa menjaga stabilitas perekonomian nasional dalam menghadapi kondisi ekonomi global yang semakin tidak menguntungkan. Inti arahannya adalah memperkuat keseimbangan eksternal atau neraca ekspor-impor agar kondisi perekonomian tetap stabil dan kondusif bagi pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.

Presiden menyampaikan, hal yang harus dilakukan adalah mengendalikan laju impor dan mendorong ekspor. Impor bisa dikendalikan salah satunya dengan pelaksanaan kebijakan mandatori diesel atau bauran yang bersifat mengikat untuk BBM dan biodiesel berbasis nabati.

Kebijakan ini diyakini menghemat devisa dari impor minyak sebesar US$5,5 miliar per tahun.

Presiden juga terus menekankan upaya meningkatkan penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), yang sudah dibicarakan sejak beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya masih belum maksimal.

Untuk memperkuat daya tahan perekonomian nasional, Presiden juga menekankan pentingnya mendorong pertumbuhan industri substitusi impor.

Arah kebijakan yang disampaikan presiden sangat jelas, sehingga harus direspons secara positif oleh semua pihak. Bagi pelaku usaha, terutama dari industri manufaktur, arahan ini diharapkan dapat membawa angin segar dalam bentuk implementasi kebijakan yang bersifat operasional oleh para menteri.

Masuknya investasi-investasi baru di sektor industri otomotif akhir-akhir ini menunjukkan bahwa pasar dan industri Indonesia memiliki nilai strategis.

Investasi-investasi ini dimulai dengan penyediaan produk-produk otomotif untuk dalam negeri. Kegiatan tersebut berpotensi untuk meningkatkan penguatan industri otomotif nasional termasuk di dalamnya menggerakkan industri hulu sebagai substitusi impor, yang berperan positif untuk meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia memasuki pasar ekspor.

Dari investasi-investasi baru ini, peningkatan TKDN dan pengembangan industri subtitusi impor akan menjadi jalan keluar untuk meningkatan produksi nasional sekaligus memperbaiki pendalaman struktur industri manufaktur.

Seperti sudah sering dikemukakan berbagai pihak, salah satu persoalan utama sektor industri manufaktur adalah rendahnya pendalaman struktur, di mana kapasitas industri hulu dan industri antara belum mampu mendukung kebutuhan industri hilir. Inilah yang menjadi salah satu kendala utama peningkatan daya saing produk industri manufaktur baik di dalam negeri, apalagi di pasar ekspor.

Rendahnya pendalaman struktur industri itu antara lain tercermin pada ketergantungan pada bahan baku dan bahan baku penolong impor. Dari data BPS, sebagian besar impor Indonesia berasal dari impor bahan baku dan bahan baku penolong, sehingga berpengaruh terhadap neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan.

Oleh karena itu, arahan Presiden tersebut perlu dijadikan momentum untuk meningkatkan pendalaman struktur industri dan membuat Indonesia semakin menarik sebagai tujuan investasi bagi pemodal dari sektor industri.

Pendalaman struktur Industri akan memberi peluang yang lebih besar bagi sektor industri untuk berkontribusi menjaga stabilitas perekonomian nasional. Langkah ini menjadi sangat strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi dalam menghadapi dampak meningkatnya risiko atau ketidakpastian perekonomian global di masa-masa datang.

Sebagai negara dengan PDB di atas US$1 triliun, potensi pasar Indonesia sangatlah besar. Angka ini akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Pasar yang besar ini haruslah bisa menjadi salah satu modal utama dalam membangun industri nasional yang kuat dan mandiri. Kebijakan peningkatan TKDN dan industri subtitusi impor menjadi satu yang tidak bisa dihindari dalam membangun industri manufaktur nasional yang berdaya saing kuat, baik di dalam negeri maupun di pasar global.

True Localization

Terkait dengan kebijakan untuk meningkatkan TKDN, akan menjadi semakin efektif jika konsep “True Localization” semakin lebih dipertajam. Jika selama ini konsep TKDN baru difokuskan pada kemampuan untuk meningkatkan penggunaan komponen lokal tanpa memperhitungkan asal bahan baku dan bahan penolong, ke depan konsep ini harus juga memperhatikan asal bahan baku dan bahan penolong. Ini akan menjadi sangat strategis karena akan bisa meningkatkan efektivitas TKDN dalam mendorong pendalaman struktur industri.

Pengalaman PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mendorong perusahaan pemasok untuk menggunakan bahan baku atau bahan baku penolong dari pelaku industri hulu dalam negeri memberikan dampak positif yang besar.

Melalui konsep yang disebut true localization ini, TMMIN berupaya menggalang sinergi antara industri hulu dengan pemasok komponen untuk mobil Toyota dalam satu kerja sama, di mana industri hulu diminta untuk memproduksi bahan baku sesuai dengan spesifikasi yang sesuai dengan standar komponen yang dibutuhkan.

Kerja sama yang dibangun TMMIN dengan pemasok komponen dan industri hulu juga telah menampakkan hasil, terutama dalam penghematan devisa. Tidaklah berlebihan bila dikatakan jika skema true localization ini bisa dikembangkan secara lebih luas. Dengan demikian, penghematan devisa tentu akan menjadi lebih besar dan upaya pendalaman struktur industri juga bisa dicapai.

*) Artikel dimuat di  koran cetak Bisnis Indonesia edisi Selasa (21/8/2018)

Tag : tkdn
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top