Facebook, Twitter & Alphabet Hapus Ratusan Akun Palsu Propaganda Iran

Facebook Inc., Twitter Inc., dan Alphabet Inc. menghapus ratusan akun yang mempromosikan agenda geopolitik Iran ke seluruh dunia. 
Annisa Margrit | 22 Agustus 2018 11:26 WIB
Ilustrasi media sosial - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA -- Facebook Inc., Twitter Inc., dan Alphabet Inc. menghapus ratusan akun yang mempromosikan agenda geopolitik Iran ke seluruh dunia. 
 
Akun-akun itu disebut menggunakan portal berita palsu dan identitas media sosial palsu. Perusahaan keamanan siber FireEye Inc. mengatakan kampanye itu menyasar pengguna media sosial di AS, Inggris, Amerika Latin, dan Timur Tengah.
 
Facebook menghapus 254 laman dan 392 akun di platformnya serta di Instagram. Ratusan akun itu menghabiskan US$12.000 untuk beriklan di Facebook dan Instagram. 
 
Sementara itu, Twitter telah menghapus 284 akun. Adapun Alphabet, pemilik Google dan YouTube, belum memberikan pernyataan.
 
Reuters melansir Rabu (22/8/2018), aktivitas yang dilakukan oleh oknum Iran mencakup kampanye anti Arab Saudi, anti Israel, pro Palestina, dan mempromosikan kebijakan pro Iran seperti dalam kasus perjanjian nuklir damai.
 
Rusia menggunakan kampanye online yang serupa termasuk dalam momen Pilpres AS pada 2016. Namun, FireEye mengungkapkan strategi yang sama sekarang digunakan untuk berbagai tujuan yang berbeda.
 
"Itu menunjukkan bahwa bukan hanya Rusia yang menjalankan aktivitas seperti ini," ujar analis operasional informasi FireEye Lee Foster.
 
Laporan dari FireEye juga mengungkapkan ada beberapa domain untuk sejumlah situs palsu seperti US Journal dan Liberty Free Press yang didaftarkan pada 2014 dan 2013, tapi tidak aktif hingga tahun lalu. 
 
Iran disebut menjadi asal ratusan akun palsu itu setelah dilakukan pencocokkan dengan nomor telepon, alamat surat elektronik, data registrasi situs, dan waktu aktifnya akun-akun tersebut.
 
Seperti diketahui, terungkapnya keterlibatan Rusia dalam Pilpres AS dua tahun lalu memicu digelarnya penyelidikan oleh penyelidik khusus AS Robert Mueller. 

Sumber : Reuters

Tag : iran, media sosial
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top