Pada Era 5G, Operator Harus Ubah Model Bisnis

Perubahan itu bakal mengubah industri pertelevisian saat ini yang masih menggunakan teknologi analog.
Duwi Setiya Ariyanti | 23 Agustus 2018 08:19 WIB
Direktur Teknologi XL Axiata, Yessie D. Yosetya, Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Rudiantara, Presiden Direktur XL Axiata, Dian Siswarini dan Kepala Jakarta SmartCity Pemprov DKI Jakarta, Setiaji dalam acara uji coba layanan berbasis 5G dan WiGig untuk mendukung Jakarta Smartcity, Senin (20/8/2018). - XL Axiata

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyebut perubahan model bisnis akan menjadi tantangan utama penerapan 5G di Indonesia. 

Menurutnya, dari sisi infrastruktur dan spektrum tak akan lagi jadi soal. Pasalnya, pemerintah terus melakukan upaya membangun infrastruktur telekomunikasi baik yang bersifat nirkabel melalui satelit dan jaringan tulang punggung melalui proyek Palapa Ring. 

Sementara itu, dari sisi spektrum frekuensi, pihaknya mengakui bahwa 3,5 GHz menjadi pilihan paling ideal. Meskipun saat ini spektrum frekuensi tersebut masih digunakan operator satelit, dia optimistis dalam kurun waktu 5 tahun ke depan, spektrum frekuensi itu bisa digunakan untuk 5G. 

Dia menilai tantangan tersulit kemungkinan ada pada model bisnis. Bila 5G memiliki pendekatan bisnis seluler, WiGig atau Wireless Giga Bit merupakan hal lainnya. 

Adapun, teknologi WiGig yang menyediakan fixed wireless access (FWA) berasal dari Facebook, perusahaan penyedia konten yang kini bermain di integrasi jaringan melalui teknologi Terragraph.

Melalui teknologi ini, jaringan internet kabel yang sudah ada menjadi lebih efisien karena bisa memacu kecepatan lebih tinggi dari sistem nirkabel multi-simpul dengan kombinasi penggunaan spektrum frekuensi 60 GHz. 

Facebook pun telah menggandeng beberapa mitra seperti Nokia dan Qualcomm untuk melakukan uji coba Terragraph. Terragraph sendiri telah diuji di Kantor Pusat Facebook pada 2016.

"Kalau bicara 5G, pendekatannya dekat ke seluler. Kalau bicara WiGig, model bisnis baru. Yang saya katakan, Facebook kan dari content, dia melakukan network  . . . tantangan utama di business model," ujarnya di Jakarta, Senin (20/8/2018).

Secara umum, dia menyebut setuju saja bila XL bisa mewujudkan koneksi internet berkecepatan 1 Gbps ke rumah-rumah hanya dengan biaya Rp100.000. Alasannya, pihaknya memang memiliki visi yang sama untuk menyediakan koneksi internet bagi masyarakat. 

Namun, perubahan itu bakal mengubah industri pertelevisian saat ini yang masih menggunakan teknologi analog. Kecepatan 1 Gbps memungkinkan pengunduhan konten video beresolusi tinggi. Dengan biaya yang terjangkau, semakin banyak yang akan meninggalkan televisi analog dengan akses internet ini. 

"Pemerintah sih akan dukung. Tapi ini akan mengubah tatanan industri pertelevisian," katanya. 

Terkait biaya sewa frekuensi untuk 5G, pihaknya akan mempertimbangkan keberlangsungan industri. Dengan demikian, tarif sewa tak akan terlalu besar bila tak menunjang keberlangsungan industri seluler. 

Dia pun menyebut bila 5G berlaku, jaringan 2G tak begitu saja dimatikan. Rudiantara menuturkan perlu kesepakatan industri untuk bisa menutup jaringan 2G. Adapun, penutupan 2G dilakukan bila pengguna data di seluruh Indonesia menyentuh 100%. Pasalnya, pengoperasian jaringan 2G juga layanannya akan menjadi tak efisien bila dibandingkan dengan 5G karena 2G menggunakan teknologi lama. 

"Nah begitu data semua, yang namanya 2G udah enggak efisien. Tinggal tunggu waktunya 2G di-shut down karena kalau mahal juga masyarakat buat apa."

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Teknologi XL, Yessie D Yosetya mengatakan pihaknya memilih Facebook, Nokia, Huawei dan Ericsson sebagai mitra dalam uji coba kali ini. Dia menuturkan tak ada alasan spesial mengapa akhirnya melibatkan semua partner dalam uji coba ini. 

"Karena mereka yang mau support," katanya. 

Tag : seluler
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top