Dampak Gempa Lombok: Okupansi Hotel di Tingkat Nasional Tahun Ini Turun 5%

Terjadinya gempa selama 3 pekan di Lombok, Nusa Tenggara Barat diperkirakan berpengaruh pada penurunan tingkat hunian kamar sepanjang tahun ini sekitar 5%. 
Yanita Petriella | 23 Agustus 2018 19:49 WIB
Resepsionis hotel sedang melayani calon konsumen. - Ilustrasi/Bisnis/Amri Nur Rahmat
Bisnis.com, JAKARTA - Terjadinya gempa selama 3 pekan di Lombok, Nusa Tenggara Barat diperkirakan berpengaruh pada penurunan tingkat hunian kamar sepanjang tahun ini sekitar 5%. 
Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengatakan Lombok menjadi destinasi incaran kedua wisatawan mancanegara setelah Bali. 
Terjadinya gempa saat peak season tentu berdampak besar pada okupansi hotel di Lombok dan juga berpengaruh tingkat hunian secara nasional. 
"Dampaknya akan sangat terasa meski tidak begitu besar. Secara nasional mengurangi okupansi sekitar dari 5% dari perkiraan sebelumnya (okupansi tahun ini) 60%," ujarnya, Kamis (23/8/2018). 
Seperti diketahui, sepanjang tahun ini dari Januari hingga Juni, okupansi hotel secara nasional rerata sebesar 54,75% sedikit lebih tinggi dibanding dengan tahun lalu 53,36%. 
Memang gempa di Lombok hanya berpengaruh tingkat hunian di Lombok Timur dan Lombok Utara, sedangkan tingkat hunian di Mataram terbilang normal. Kendati demikian, Lombok Timur dan Lombok Utara merupakan wilayah yang sering dikunjungi wisatawan. 
"Di Mataram masih normal (okupansinya). Karena wisatawan banyak ke Lombok Utara dengan 3 gili terkenalnya. Gempa ini enggak pengaruh ke Bali, wisatawan dari NTB banyak pindah ke Bali," kata Hariyadi.
Sementara itu, Ketua PHRI Nusa Tenggara Barat Lalu Abdul Hadi Faesal menuturkan okupansi hotel berbintang di Lombok merosot sebesar 70% dari sebelumnya mencapai 87% akibat gempa yang terjadi selama 3 minggu.
Sebelum gempa Lombok terjadi, tingkat okupansi mencapai 87% dari Januari hingga pertengahan Juli ini. 
"Okupansi hotel di Lombok saat ini rerata 20% merosot 70%. Sebelum gempa, kami berbangga okupansi paling tinggi se Indonesia 87%. Untuk okupansi di sisi selatan sekarang 30%," ucapnya.  
Dengan kondisi ini, pihaknya memperkirakan okupansi hotel hingga akhir tahun tak begitu besar yakni sekitar 80% dibandingkan tahun lalu yang mencapai 85%.
Menurutnya, pemulihan pariwisata Lombok saat ini membutuhkan waktu terutama untuk 3 gili yang menjadi primadona wisatawan yakni Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno. 
Saat ini, pembenahan ketiga gili tersebut tengah dilakukan sehingga pada pertengahan September, wisatawan dapat kembali berwisata di tiga gili itu. 

"Ini sudah mulai banyak wisatawan yang datang kembali ke Lombok. Kemarin sempet mereka ikut eksodus ke Banyuwangi, Jakarta karena ada isu yang ga enak tentang Lombok. Tapi ini mereka (wisatawan) mulai sudah wisata ke Lombok lagi," tuturnya. 
Di saat low season, ketiga gili tersebut ramai dikunjungi oleh wisatawan mancanegara dengan rerata tingkat keterisian kamar sekitar kurang lebih 80% hingga 90%. 

Untuk menarik minat berwisata ke Pulau Lombok, pihaknya bekerja sama dengan maskapai yang memiliki penerbangan langsung ke Lombok dengan pemberian promo kamar hotel. 
"Dengan promo yang kami berikan bisa membuat okupansi hotel di Lombok kembali pulih. Kami optimis Lombok bisa recovery lebih cepat karena saat Gunung Agung dan Gunung Kelud pariwisata kami juga terdampak," kata Hadi. 
Tag : gempa lombok
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top