Pengusaha Gula Sambut Positif Industri 4.0, Berikut Pendapatnya

Industri 4.0 menjadi peluang bagi industri gula untuk meningkatkan daya saing.
Annisa Sulistyo Rini | 23 Agustus 2018 22:03 WIB
Buruh memanen tebu untuk dikirim ke pabrik gula di Ngawi, Jawa Timur, Selasa (8/8). - ANTARA/Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA--Industri 4.0 menjadi peluang bagi industri gula untuk meningkatkan daya saing.

Seperti diketahui, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian telah menyiapkan peta jalan Making Indonesia 4.0. Peta jalan tersebut disusun dalam rangka implementasi sejumlah strategi memasuki era industri 4.0.

Terdapat 5 sektor utama yang difokuskan untuk penerapan awal teknologi dalam menghadapi era tersebut, salah satunya industri makanan dan minuman. Industri gula masuk ke dalam industri ini.

Namun, sekarang ini industri gula dalam negeri menghadapi permasalahan yang cukup kompleks. Permasalahan tersebut tidak hanya pada tataran on-farm, tetapi juga di sisi off-farm, dualisme komoditas/pasar, dan tata niaga yang tidak efisien.

Dampaknya, tingkat efisiensi dan produktivitas industri gula rendah dan tidak kompetitif. Ditambah lagi permasalahan impor, ketersediaan stok dan hal lainnya berkaitan dengan regulasi yang dianggap masih belum efektif dan efisien.

Berbagai hal tersebut menjadi permasalahan serius yang dapat mempengaruhi daya saing industri gula nasional.

Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) B. Didik Prasetyo mengatakan berbagai permasalahan yang dihadapi industri gula nasional pada saat ini masih mungkin untuk dicarikan solusinya.

"Peran teknologi dalam memudahkan konektivitas dan akses pada big data yang menjadi salah satu karakteristik dari Industri 4.0, dapat digunakan sebagai alat untuk membuat industri gula menjadi lebih efektif dan efisien sehingga mampu meningkatkan daya saing," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (23/8/2018).

Didik juga menyampaikan bahwa masih banyak ruang peningkatan daya saing dan inovasi di industri gula. Setiap bagian dari tanaman tebu mulai dari pucuk, daduk hingga batang, dapat diolah menjadi berbagai macam produk yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.

Untuk menghadapi industri gula 4.0, dia berpendapat budidaya tebu harus dikembangkan dengan sistem terintegrasi dari hulu ke hilir melalui pemanfaatan internet of things (IoT), artificial intelegence (AI), serta pola pikir go beyond industri gula. Oleh karena itu, perlu dilakukan inovasi operasional industri tebu baik on-farm maupun off-farm dan aspek lain di luar industri gula.

Selain itu, kerjasama berbagai pihak juga diperlukan agar terbentuk sinkronisasi dan integrasi dalam berbagai proses mulai dari hulu hingga hilir di industri gula nasional.

Ahmad Erani Yustika, Staf Khusus Kepresidenan Bidang Ekonomi, mengatakan salah satu yang perlu dilakukan yaitu melalui perombakan sistem tata niaga gula di Indonesia. "Diharapkan, ke depan industri gula nasional dapat lebih siap untuk menyesuaikan diri dengan era Industri 4.0, sehingga dapat mendongkrak daya saing dan kembali berjaya di tataran global," jelasnya.

Sementara itu, Rektor IPB Arif Satria menyampaikan bahwa strategi peningkatan daya saing industri gula di era revolusi imdustri 4.0 dapat dilakukan melalui inovasi teknologi informasi dan komunikasi pada berbagai aspek di industri gula, mulai dari aspek produksi, keterkaitan rantai suplai, investasi, hingga ke aspek penelitian terintegrasi, peningkatan kapasitas dan lainnya.

Selain itu, karena permasalahan industri gula lebih pada permasalahan sosial, maka yang diperlukan adalah edukasi melalui pendampingan petani.

"Apabila revolusi industri 4.0 diimplementasikan oleh industri gula nasional, maka harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas petani sehingga bisa saling mendukung," katanya.

Tag : industri gula
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top