Menteri PUPR Beberkan Keberhasilan Indonesia

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengklaim bahwa langkah pemerintah yang gencar membangun jalan sejak 2015 hingga 2019 telah membuahkan hasil.
Rivki Maulana | 23 Agustus 2018 21:01 WIB
Kendaraan terjebak kemacetan di pintu keluar jalan tol Jombang-Mojokerto (Jomo) di Bandar Kedungmulyo, Jombang, Jawa Timur, Rabu (13/6/2018). - ANTARA/Syaiful Arif

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengklaim bahwa langkah pemerintah yang gencar membangun jalan sejak 2015 hingga 2019 telah membuahkan hasil.

Daya saing infrastruktur yang selama ini tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga setapak demi setapak mulai merangkak naik.

Menteri Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan pemerintah menargetkan pembangunan jalan tol baru sepanjang 1.852 km dalam periode 2015—2019. Selain jalan tol, jalan nasional baru sepanjang 2.650 km juga ditargetkan rampung selama periode tersebut.

Kementerian PUPR juga membangun jalan akses dengan total panjang 500 km yang terhubung dengan 24 pelabuhan utama, 60 pelabuhan penyeberangan, dan jalan pendukung ke 25 kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN).

"[Pembangunan] ini bukan untuk gagah-gagahan, melainkan untuk mengejar ketertinggalan. Maka tidak bisa memakai cara yang biasa, harus pake gaya rock n roll," ujar Basuki dalam Orasi Ilmiah di Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta, Kamis (23/3/2018).

Basuki menambahkan bahwa panjang jalan tol di Indonesia hanya mencapai 780 km meskipun pembangunan jalan tol dimulai sejak 1973.

Sementara itu, Sistem Lebuh Raya Ekspres Malaysia atau jaringan jalan tol di Malaysia mencapai 1.821 km.

Pembangunan jalan tol dan jalan bukan tol baru, menurut Basuki, diperlukan untuk mengurangi waktu tempuh di jalur logistik utama dari 2,7 jam per 100 kilometer pada 2014 menjadi 2,2 jam per 100 kilometer pada 2019.

Jalan baru juga diperlukan untuk mengurangi kepadatan arus lalu lintas sehingga bisa menurunkan rasio biaya logistik terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi 20% dari semula 24%.

Pembangunan infrastruktur jalan, tuturnya, secara agregat meningkatkan daya saing infrastruktur Indonesia sebanyak 20 peringkat dari urutan ke-72 pada 2014—2015 menjadi urutan ke-52 pada 2017—2018. Perbaikan dari sisi infrsfruktur juga mengerek serta peringkat Indonesia pada daya saing global di peringkat ke-36 pada 2017—2018.

"Selain meningkatkan daya saing bangsa, pembangunan infrastruktur juga telah memberi kontribusi sekitar 0,82% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Basuki.

Tag : infrastruktur, daya saing
Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top