Presiden Jokowi Ingatkan Intelektual Muslim Antisipasi Dampak Negatif Teknologi

Dewasa ini dunia terus berkembang sedemikian cepat. Terlebih dengan adanya revolusi industri keempat yang memiliki dampak ribuan kali lebih besar dibanding revolusi industri pertama.
Yodie Hardiyan | 24 Agustus 2018 20:35 WIB
Presiden Jokowi - Reuters/Yuri Gripas

Bisnis.com, JAKARTA--- Kongres II Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama yang digelar pada 24 sampai 25 Agustus 2018 dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, (24/8/2018).

Kongres yang mengusung tema "Pembangunan Inklusif dan Islam Nusantara Menyongsong se-Abad Indonesia sebagai Negara Kesejahteraan Pancasila" ini mewadahi para sarjana, ilmuwan, intelektual, dan sejumlah profesional NU dari berbagai disiplin ilmu.

Dalam sambutan pembukaannya, Presiden mengingatkan bahwa dewasa ini dunia terus berkembang sedemikian cepat. Terlebih dengan adanya revolusi industri keempat yang dikatakan memiliki dampak ribuan kali lebih besar dibanding revolusi industri pertama.

"Artinya sebentar lagi akan terjadi perubahan besar-besaran di dunia yang ini akan mengubah interaksi kita dalam hidup sehari-sehari. Oleh sebab itu, kita harus betul-betul mengantisipasi ini," ujar Presiden.

Menurut Presiden, sudah menjadi keharusan bagi para intelektual Muslim untuk berani terjun ke bidang-bidang yang berkaitan dengan inovasi ilmu pengetahuan. Hal tersebut sesuai dengan semangat kemajuan peradaban Islam sekitar 15 abad lalu saat  berada pada puncak kejayaannya.

"Tadi sudah disampaikan Pak Kiai bahwa 15 abad yang lalu peradaban Islam berada pada posisi paling tinggi. Kenapa tidak sekarang kita juga memperebutkan itu kembali? Banyak kesempatan yang bisa kita lakukan saat ini untuk melakukan perubahan-perubahan," tutur Presiden.

Lebih jauh, Kepala Negara menekankan agar Intelektual Muslim mampu mengantisipasi dampak merugikan dari perkembangan teknologi dan pengetahuan. Tak dapat dipungkiri, perkembangan-perkembangan itu selain dapat menimbulkan manfaat nyata, juga bisa mendatangkan mudarat akibat penggunaan yang tidak bertanggung jawab.

"Sebagai contoh keterbukaan informasi media sosial ada manfaatnya tapi juga banyak merusaknya. Fitnah-fitnah lewat sana, saling mencela lewat sana, saling menjelekkan lewat sana," ucap Presiden.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top