Pembuat Masjid Berjalan Berminat Kerja Sama Dengan Pemerintah Indonesia

Yasu Project, perusahaan pembuat Mobile Mosque atau Masjid Berjalan dari Jepang, berencana menjalin kerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk mengembangkan inovasi tempat ibadah yang dapat berpindah tempat ini.
Dewi Andriani | 25 Agustus 2018 06:33 WIB
Masjid berjalan (mobile mosque) yang akan digunakan pada penyelenggaraan Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Yasu Project, perusahaan pembuat Mobile Mosque atau Masjid Berjalan dari Jepang, berencana menjalin kerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk mengembangkan inovasi tempat ibadah yang dapat berpindah tempat ini.

 CEO Yasu Project Yasuhura Inoue mengatakan pihaknya sudah melakukan pendekatan dengan Kementerian Perindustrian untuk mengembangkan investasi masa depan dengan membuat Masjid Berjalan di Indonesia sehingga nantinya dapat diekspor ke berbagai negara.

Namun, sambungnya, untuk  dapat mengembangkan teknologi ini, akan lebih baik jika tenaga ahli dari Indonesia melakukan pelatihan terlebih dahulu ke Jepang untuk alih teknologi. Setelah itu, baru dikembangkan dan dirakit di Indonesia.

“Jika ilmunya atau software-nya sudah dikuasai, proses pembuatan atau hardware-nya akan lebih mudah. Tinggal mencari pengusaha lokal dan lokasi pembuatan untuk invesasti. Setelah jadi, bisa diekspor ke berbagai negara,” tutur Inoue, Jumat (24/8/2018).

Adapun biaya untuk pembuatan Masjid Berjalan ini sekitar 100 juta yen atau Rp14 miliar. Angka ini dapat berubah sesuai dengan kebutuhan dan material yang digunakan, termasuk tenaga kerjanya.

Jika dikerjakan di Indonesia, bisa saja investasi yang dibutuhkan tidak mencapai Rp14 miliar.

Masjid Berjalan pertama kali dikembangkan untuk menyambut Olimpiade 2020 di Jepang dan diperuntukan bagi para atlet dan tamu Muslim yang ingin menunaikan salat. Bentuknya serupa dengan robot dalam film "Transformer" yang wujud aslinya berupa mobil.

Jika hendak digunakan, masjid yang terbuat dari truk kontainer dengan bobot 25 ton ini akan melebar dan meluas di kedua sisi hingga mencapai 48 meter persegi. Proses "berubah" ini hanya membutuhkan waktu 5 menit dan kapasitasnya mampu mencapai 50 jemaah.

Fasilitas ibadah berwarna putih biru tersebut dilengkapi empat unit pendingin ruangan, karpet, pencahayaan, atap, dan anak tangga serta tempat untuk berwudu. Air wudu yang telah digunakan akan kembali diolah atau didaur ulang dengan teknologi buatan Jepang sehingga lebih ramah lingkungan.

Sebagai masjid yang sering berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, tentu saja arah kiblatnya akan berubah-ubah. Oleh karena itu, Masjid Berjalan dirancang dengan sistem yang dapat menentukan arah kiblat.

Tag : kemenperin, masjid
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top