Ini Cara Pemerintah Pacu Investasi di Manufaktur

Pemerintah menyebutkan investasi menjadi kunci mengatasi neraca dagang yang terus defisit. Untuk itu, beragam kampanye digulirkan agar para pemilik modal memilih Indonesia sebagai negara tujuan investasinya.
Anggara Pernando | 27 Agustus 2018 20:56 WIB
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto secara simbolis menyerahkan kunci kepada Rektor Universitas Indonesia Muhammad Anis saat kickoff electrified vehicle comprehensive Study di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 4 Juli 2018. - Kemenperin

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah menyebutkan investasi menjadi kunci mengatasi neraca dagang yang terus defisit. Untuk itu, beragam kampanye digulirkan agar para pemilik modal memilih Indonesia sebagai negara tujuan investasinya.

"Untuk meningkatkan investasi, Indonesia akan secara aktif melibatkan perusahaan manufaktur global. Memilih 100 perusahaan manufaktur teratas dunia sebagai kandidat utama dan menawarkan insentif yang menarik, dan berdialog dengan pemerintah asing untuk kolaborasi tingkat nasional," kata Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian melalui keterangan tertulis, Senin (27/8/2018).

Para pemilik modal ini akan diganjar fasilitas fiskal menarik seperti tax holiday, tax allowance, dan pembebasan bea masuk impor barang modal atau bahan baku. Bahkan, Kemenperin telah mengusulkan skema super deductible tax untuk industri yang melakukan kegiatan inovasi dan vokasi. Kemudian, pemerintah memperbaiki tata cara perizinan baik yang dilakukan di tingkat pusat maupun di daerah.

“Saat ini, sudah disiapkan tata cara perizinan dengan menggunakan mekanisme Online Single Submission (OSS), imbuhnya. Selain itu, Kemenperin mendukung akselerasi peningkatan kompetensi sumber daya manusia industri melalui program pelatihan dan pendidikan vokasi," kata Airlangga.

Hingga semester I/2018 investasi yang masuk pada sektor manufaktur mencapai Rp122 triliun. Investasi ini tersebar ke dalam 10.049 proyek. Investasi manufaktur ini sendiri hanya 33,6% dari total nilai investasi yang datang yakni mencapai sebesar Rp361,6 triliun.

Dari jumlah ini penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp46,2 triliun. Sedangkan, penanaman modal asing (PMA) sebanyak USD5,6 miliar atau Rp75,8 triliun.

Kementerian Perindustrian mencatat para pemilik modal menempatkan dananya di industri makanan sebesar 47,50% (setara Rp21,9 triliun), industri kimia dan farmasi 14,04% (Rp6,4 triliun), serta industri logam, mesin, dan elektronika 12,70 persen (Rp5,8 triliun).

Sedangkan investor asing lebih menyukai meletakan uangnya pada industri logam, mesin, dan elektronika sebesar 39,69% (US$2,2 miliar), diikuti industri kimia dan farmasi 18,84% (US$1,1 miliar), serta industri makanan 10,41% (US$586 juta).

Airlangga menambahkan, upaya menarik minat investasi asing menjadi salah satu dari 10 langkah prioritas nasional dalam memasuki era revolusi industri keempat sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0. Hal ini dapat mendorong transfer teknologi kepada perusahaan lokal.

Tag : investasi
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top