Kembangkan Vaksin, Biofarma Gandeng Negara-Negara Islam

PT Bio Farma (Persero) memperkuat bisnis di negara-negara Islam dengan mengambil peran sebagai center of excellence.
Anggara Pernando | 27 Agustus 2018 21:05 WIB
Pekerja menunjukkan vaksin yang mengandung komponen difteri sebelum didistribusikan, di Bandung, Jawa Barat, Senin (18/12). - ANTARA/M Agung Rajasa

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bio Farma (Persero) memperkuat bisnis di negara-negara Islam dengan mengambil peran sebagai center of excellence.

M. Rahman Roestan, Direktur Utama Bio Farma menuturkan saat ini dari 57 negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI), hanya tujuh negara yang memiliki industri vaksin. Meski begitu, dari jumlah ini baru Bio Farma yang diakui oleh World Health Organization (WHO).

"Untuk itu, Indonesia ditetapkan sebagai center of excellence untuk negara OKI bidang vaksin dan bioteknologi," kata Rahman di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), di Jakarta, Senin (27/8/2018).

Rahman menuturkan melalui peran ini, Bio Farma akan mendorong kemandirian vaksin bagi negara-negara Islam ini. Bentuk kerjasama yang disiapkan baik melalui penelitian dan pengembangan hingga kerjasama produksi.

"Saat ini dengan Arab Saudi kami sudah tandatangani kerjasama. Bentuknya transfer teknologi, harapannya vaksin [hasil kerjasama] tidak hanya digunakan di Arab Saudi namun juga di daerah teluk, " katanya lebih lanjut.


Rahman menuturkan, melalui kerjasama yang difasilitasi oleh Kementrian PPN, pihaknya juga menjajaki kerjasama yang serupa dengan Tunisia dan Maroko. Produk yang akan dikerjasamakan ini meliputi produk vaksin dasar seperti polio, campak, tetanus, difteri hingga hepatitis.

"Termasuk [produk Bio Farma] terbaru, vaksin pentavalen dalam satu suntikan," katanya.

Melalui kerjasama negara-negara Islam ini, Rahman menuturkan juga terjadi percepatan lompatan pengetahuan produksi vaksin dengan menggunakan material yang halal. Selama ini sejumlah vaksin seperti rubella masih menggunakan bahan baku pengembangan yang diragukan kehalalannya.

"Tantangan negara Islam ke depan adalah menemukan material yang tidak diragukan kehalalannya [dalam pengembangan vaksin], itu ada dalam skema [center of excellence] ini," katanya.

Rahman juga berharap, kerjasama lintas negara ini terjadi pertukan pengetahuan atas penelitian-penelitian jangka panjang. Dengan pertukaran informasi maka proses produksi satu vaksin yang bisa mencapai 15-20 tahun dapat dipersingkat menjadi 5 tahun.

Menteri PPN Bambang Brodjonegoro menuturkan negara-negara OKI telah menunjuk Bio Farma sebagai leading institution. Maka kerjasama ini ditargetkan untuk memperbaiki kesehatan masyarakat di negara-negara Islam.

Tag : bio farma
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top