Tarif Listrik Indonesia Diklaim Masih Kompetitif di Asean

Kementerian ESDM memastikan tarif listrik di Indonesia masih kompetitif dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Denis Riantiza Meilanova | 27 Agustus 2018 02:01 WIB
Warga melakukan isi ulang pulsa listrik di salah satu perumahan, Jakarta, Rabu (6/1/2016). PT PLN (Persero) berencana akan membebaskan biaya tambah daya listrik untuk pelanggan 450 dan 900 ke 1.300 Volt Ampere (VA) yang berlaku bagi pelanggan rumah tangga. - Antara/M Agung Rajasa

Tarif Listrik Indonesia Masih Kompetitif di ASEAN

Bisnis.com, JAKARTA-- Kementerian ESDM memastikan tarif listrik di Indonesia masih kompetitif dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan data Juni 2018 menunjukkan bahwa tarif tenaga listrik di Indonesia cukup bersaing bila dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, dan Vietnam.

"Berdasarkan data yang kami himpun, kami pastikan bahwa selain kompetitif, tarif listrik di Indonesia juga paling stabil dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara," ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Minggu (26/8/2018).

Besaran tarif rata-rata saat ini untuk pelanggan rumah tangga 450 VA sebesar Rp415 per kWh, rumah tangga 900 VA tidak mampu sebesar Rp586 per kWh, Rumah tangga 900 VA mampu sebesar Rp1.352 per kWh dan pelanggan non subsidi (tariff adjustment), sebesar Rp1.467 per kWh.

Untuk tarif adjustment, tarif tenaga listrik di Indonesia bagi pengguna rumah tangga non subsidi ini dikonversikan sekitar US$11 sen per kWh, masih lebih murah dibanding tarif listrik rumah tangga di Thailand yang mencapai US$12,41 sen per kWh, Singapura US$19,97 sen per kWh, dan Filipina US$18,67 sen per kWh.

Untuk tenaga listrik konsumen bisnis menengah, tarif di Indonesia dan Thailand adalah US$11 sen per kWh, lebih rendah dibandingkan Malaysia (US$13,58 sen per kWh), Singapura (US$14,30 sen per kWh), Filipina (US$12,23 sen per KWh) dan Vietnam (US$13,44 sen per kWh).

Bahkan, untuk jenis pengguna bisnis besar, tarif tenaga listrik di Indonesia termasuk yang termurah se-ASEAN, yakni 8,36 sen USD/kWh, bila dibandingkan konsumen kelas yang sama di Singapura yang mencapai 14,02 sen USD/kWh, Vietnam 11,98 sen USD/kWh, Thailand 11 sen USD/kWh, Filipina 11,98 sen USD/kWh, dan Malaysia 9,60 sen USD/kWh.

Di samping itu, untuk jenis pengguna industri menengah, tarifnya di Indonesia dan Thailand sebesar 8,36 sen USD/kWh, lebih murah daripada tarif di Singapura yang mencapai 13,05 sen USD/kWh, Filipina 11,69 sen USD/kWh. Tarif ini sama dengan besaran tarif tenaga listrik kelas yang sama di Thailand, namun berada sedikit di atas Malaysia yang tarifnya 8,29 sen USD/kWh dan Vietnam 7,81 sen USD/kWh.

Tarif tenaga listrik pengguna industri besar yang sebesar US$7,47 sen per kWh, hanya sedikit lebih tinggi dibanding Vietnam (US$7,41 sen per kWh). Untuk kelas ini Singapura mematok tarif US$12,72 sen per kWh, Filipina US$11,63 sen per kWh, Thailand US$8,36 sen per kWh dan Malaysia (US$7,76 sen per kWh).

Lebih lanjut, Agung menjelaskan komitmen Pemerintah untuk menjaga tarif yang lebih kompetitif di tahun mendatang.

"Coba bandingkan dengan negara lain. Pemerintahan mereka sudah beberapa kali menaikkan tarif listrik. Sementara, kami tidak ada perubahan tarif bahkan kami optimis akan menciptakan tarif yang lebih kompetitif bila program 35.000 MW berjalan sesuai target," kata Agung.

Tag : esdm, tarif listrik
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top