TREN PARIWISATA: Liburan Keluarga Makin Populer

Situs berbasis daring Agoda merilis riset mengenai tren liburan keluarga sebesar 34% keluarga melakukan perjalanan keluarga sebanyak lima kali dalam setahun. 
Yanita Petriella | 28 Agustus 2018 16:48 WIB
Calon penumpang menaiki kereta api di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Jumat (14/4). - Antara/Muhammad Adimaja
Bisnis.com, JAKARTA - Situs berbasis daring Agoda merilis riset mengenai tren liburan keluarga sebesar 34% keluarga melakukan perjalanan keluarga sebanyak lima kali dalam setahun. 
Survei Agoda bertajuk ‘Family Travel Trends 2018 yang dilakukan YouGov menunjukkan sebanyak 77% wisatawan Thailand dan 62% Filipina melakukan lima atau lebih liburan keluarga selama setahun terakhir.
Sebaliknya, 7% orang Inggris  melakukan lebih dari lima perjalanan keluarga, dan bahkan 34% dari mereka hanya melakukan satu liburan keluarga.
CEO Agoda John Brown mengatakan liburan keluarga sedang menjadi tren global.  Secara global, durasi menginap paling populer adalah 4 hingga 7 malam. Di UK, wisata 4-7 malam dilakukan 41% keluarga selama setahun terakhir, sementara Thailand hanya 20%. 
Sementara itu,  liburan lebih dari 14 malam dilakukan hampir sepertiga orang Thailand, namun hanya 11% orang Malaysia melakukannya. 
"Vietnam, Malaysia, dan China umumnya hanya melakukan liburan 1-3 malam," ujarnya belum lama ini.
Selain itu, banyak 35% wisatawan ternyata berlibur bersama kakek neneknya. Orang Thailand (66%) dan Indonesia (54%) suka menyertakan kakek nenek dalam liburannya. 
Tren ini juga berarti orang Thailand dan Indonesia suka mengajak anggota selain keluarga mereka, seperti saudara, sepupu, paman, dan bibi ketika berlibur.
"Wisatawan dari UK dan Australia tak banyak melakukan ini, masing-masing hanya 13% dan 20%," katanya.
 
Bukan hanya anggota keluarga, wisatawan asal Amerika (22%), British (23%), Australia (26%), dan China (27%) selama setahun terakhir bepergian bersama teman-teman. 
Sementara hampir setengah wisatawan dari Filipina (48%), 43% dari Vietnam dan 40% dari Malaysia memilih bepergian bersama kawan-kawannya.
 
Selain itu, tambah John, banyak orang menggunakan situs daring untuk memesan tiket perjalanan maupun penginapan liburan keluarga dalam 12 bulan terakhir. 
Dalam riset ini juga menunjukkan hotel masih menjadi akomodasi pilihan saat liburan bersama keluarga, diikuti rumah-rumah yang disewakan (holiday homes), B&B, dan resor. 
Biaya, keamanan, dan aktivitas menjadi pertimbangan utama bagi mereka yang merencanakan liburan bersama keluarga, ketimbang wisatawan yang berwisata tanpa keluarga atau sendirian.
 
“Tren liburan keluarga berkembang cepat. Kebutuhan para wisatawan pun unik dan bermacam-macam. Setiap keluarga memiliki permintaan yang berbeda. Sebab itulah kami bangga bisa menyediakan bermacam pilihan akomodasi, mulai dari hotel, holiday homes, hingga kastil, sesuai anggaran masing-masing. Keluarga kini bisa menggunakan filter Agoda yang bisa disesuaikan untuk mencari tempat dengan pengawas anak (babysitting) atau klub anak, fasilitas tambahan seperti dapur atau kamar bersebelahan (adjoining room). Sehingga, seluruh pengalaman booking dan bepergiaan bisa lebih asyik,” papar John.
 Dia menambahkan untuk di Indonesia, sebesar 81% orang Indonesia bepergian bersama keluarga inti selama setahun terakhir, sebesar 31% bersama keluarga besar, dan sisanya sebesar 54% bersama kakek-nenek atau cucu.
"Rerata orang Indonesia melakukan lima liburan keluarga selama setahun terakhir. Durasi liburan keluarga paling populer di antara orang Indonesia adalah 1-3 malam," ucapnya.
Wisatawan Indonesia ingin menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga (68%), relaksasi (52%), dan mencoba hal baru (49%) ketika liburan keluarga.
"Tiga kekhawatiran utama orang Indonesia saat liburan keluarga adalah sakit (47%), kualitas akomodasi (19%), dan perbedaan pendapat dengan anggota keluarga lain (13%)," kata John.
Sementara itu, Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azahari menuturkan terdapat tren liburan masyarakat Indonesia bersama keluarga. 
"Jadi apabila ada hari merah atau tanggal kejepit pasti masyarakat gunakan untuk berlibur bersama keluarga meski hanya di dalam negeri saja," ujarnya. 
Menurutnya, tren ini berdampak baik untuk membantu meningkatkan perolehan wisatawan nusantara yang tahun ini ditargetkan sebanyak 275 juta wisatawan. 
"Ini juga sebagai promosi kami karena mereka (wisnus) yang berlibur pasti mengupload destinasi wisata di sosial media. Jadi berdampak ke wisman yang datang ke Indonesia juga," kata Azril. 
PR Manager Traveloka Busyra Oryza berpendapat tren liburan bersama teman maupun keluarga merupakan dampak dari kemajuan teknologi membuat layanan pemesanan untuk perjalanan dan gaya hidup begitu mudah untuk dilakukan.
Menurutnya, dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, masyarakat dapat lebih bebas dalam merencanakan perjalanan dan menunjang gaya hidup. 
Segala kebutuhan dapat dengan mudah diakses hanya dalam genggaman. Transportasi dan akomodasi menjadi hal utama yang paling penting dalam bepergian.  Pilihan transportasi pun beragam, mulai dari pesawat, kereta api, maupun bus. 
Setelah menentukan transportasi, pengguna juga sering kali dihadapkan dengan pilihan akomodasi yang semakin bervariasi.  Mulai dari hotel, homestay, guest house, vila, resor, dan lain-lain.
Kemudahan dan kebebasan menentukan transportasi dan akomodasi untuk bepergian semakin terasa dengan adanya teknologi dan hadirnya aplikasi penyedia jasa pemesanan (booking).
"Melansir data dari Inventure (2017), setidaknya 65,77% konsumen saat ini lebih memilih melakukan pemesanan lewat aplikasi. Keberagaman pilihan transportasi dan akomodasi menjadikan aplikasi seperti Traveloka populer digunakan oleh konsumen saat ini," ucapnya. 
Selain itu, kata Busyra, bujet atau anggaran merupakan sebuah elemen yang tidak dapat dimungkiri dalam merencanakan perjalanan. Setiap orang memiliki porsi anggaran yang berbeda untuk dapat mewujudkan rencana perjalanannya.
"Penentuan anggaran tentunya berdampak pada pilihan harga transportasi dan akomodasi. Kapan pun dan kemana pun, tentunya masyarakat ingin pergi liburan dengan cara yang mudah dan anggaran yang murah," tuturnya.
Fenomena ini dapat terlihat dari kian menjamurnya jumlah hotel bujet dan maskapai penerbangan bertarif rendah (low cost carrier). 
Data Centre for Aviation pada 2012 menunjukkan bahwa maskapai LCC menduduki posisi paling pertama dengan peningkatan hampir 30 juta.
Tidak hanya maskapai pesawat, perkembangan hotel bujet pun semakin menjamur. Jumlah hotel bujet telah melampaui hotel bintang 4 dan 5, yang mana jumlahnya hampir mencapai 50% pada 2018 dan diprediksi akan terus meningkat di 2019.
Untuk membantu traveler mengatur perjalanan tanpa khawatir dengan anggaran, konsumen dapat menggunakan fitur unggulan dari penyedia platform booking seperti Traveloka yang menyediakan fitur Price Alert, guna mendapatkan notifikasi instan saat harga tiket sesuai anggaran, sehingga Anda dapat pesan penerbangan di waktu yang tepat.
"Fitur ini bisa membantu Anda mendapatkan tiket pesawat dengan harga termurah sesuai tanggal keberangkatan dan destinasi keinginan. Begitu Anda memasukkan batasan harga untuk sebuah penerbangan, Anda akan memperoleh pemberitahuan jika ada tiket pesawat dengan harga yang sesuai anggaran," terang Busyra.
Dia menilai apabila melihat kembali kepada waktu lima hingga 10 tahun lalu, di mana menentukan perjalanan belum semudah saat ini. 
Pasalnya, untuk mengatur perjalanan dari membeli tiket transportasi hingga akomodasi masih menggunakan cara konvensional dan rencana perjalanan telah diatur oleh biro perjalanan.
"Seiring dengan berkembangnya teknologi dan pertumbuhan penggunaan smartphone yang pesat, pengguna semakin dimanjakan dengan adanya aplikasi yang memudahkan proses pemesanan tiket perjalanan bahkan hingga kebutuhan penunjang kehidupan sehari-hari," tutur Busyra. 
Tag : pariwisata
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top