Tren Positif Ekspor CPO Bakal Berlanjut

Tren positif berupa kenaikan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada Juli 2018, diperkirakan akan terus berlanjut di masa depan.
Yustinus Andri DP | 29 Agustus 2018 14:20 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Tren positif berupa kenaikan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada Juli 2018, diperkirakan akan terus berlanjut di masa depan.

Analis Produksi Kelapa Sawit Cofco International Roby Fauzan memperkirakan, kondisi pasar CPO global diperkirakan terus membaik. Kendati demikian, dia menilai, meningkatnya ekspor belum akan mampu mengurangi stok dalam negeri secara signifikan.

“Masih akan terus tumbuh ekspornya. Namun, untuk menyedot stok dalam negeri diperkirakan belum akan terlalu signifikan, sebab produksi domestik masih tetap tinggi setidaknya hingga Oktober,” ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (26/8/2018)

Kelebihan stok dalam negeri, lanjutnya, juga masih akan terjadi kendati pemerintah memperluas mandatori penggunaan biodiesel (B20) kepada sektor non-public service obligation (PSO). 

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki), produksi kelapa sawit pada Juli 2018 mencapai level tertingginya sejak 2015 dengan mencapai 4,28 juta ton.

Lebih lanjut, Roby memperkirakan tren harga CPO global masih belum akan mengalami kenaikan signifikan, kecuali permintaan minyak kelapa sawit di dunia melonjak sehingga mampu mengurangi kelebihan stok di Indonesia dan Malaysia.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono menyebutkan, volume ekspor minyak sawit Indonesia (CPO, PKO dan turunannya), oleochemical dan biodiesel membukukan rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan menembus 3,22 juta ton. Capaian itu naik 27% dibandingkan dengan ekspor Juli 2017 yang mencapai 2,54 juta ton.

Menurutnya, salah satu  faktor pendorong utama menggeliatnya pasar minyak sawit Indonesia adalah harga minyak sawit yang sedang murah.

Selain itu kebijakan India yang kembali membeli minyak sawit sebagai akibat dari regulasi baru yang menaikkan bea masuk untuk impor minyak nabati lainnya termasuk kedelai, bunga matahari dan rapeseed turut mendongkrak permintaan CPO Indonesia.

“Sentimen lain juga muncul dari China yang mulai tertarik dengan biodiesel Indonesia,” kata Mukti, seperti dikutip dalam keterangan resminya.

Sepanjang Juli ekspor minyak sawit Indonesia ke China naik sebesar 6%, atau sejumlah 350.120 ton dari Juni yang mencapai 330.430. Hal itu salah satunya terjadi lantaran Beijing mulai mempromosikan penggunaan biofuel dalam rangka mengurangi emisi.

Sementara itu secara year on year, capaian kinerja ekspor minyak sawit Indonesia dan industri hilirnya hanya mampu naik 2% sampai pada Juli 2018 ini dibandingkan periode tahun lalu.  Volume ekspor Januari—Juli 2017 mencapai 18,15 juta ton, pada periode yang sama 2018 naik menjadi 18,52 juta ton.

Di sisi produksi, sepanjang bulan Juli 2018 produksi diprediksi mencapai 4,28 juta ton. Ini juga merupakan rekor tertinggi produksi CPO and PKO sejak tahun 2015. Cuaca yang mendukung dan pengaruh El Nino dari dua tahun lalu sudah tidak ada serta meningkatnya luas tanaman menghasilkan mendorong meningkatnya produksi tandan buah sawit (TBS).

Sementara itu, terkait dengan harga, sepanjang Juli 2018 harga CPO bergerak di kisaran US$567,50–US$610 per metrik ton, dengan harga rata-rata US$587,4 per metrik ton.

“Harga CPO global terus tertekan karena hanya minyak nabati lain yang sedang jatuh dan meningkatnya stok minyak sawit di Indonesia dan Malaysia,” ujarnya.

Tag : ekspor cpo
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top