Mitigasi Diperlukan Dalam Proyek Transportasi Massal

Pemerintah dinilai perlu meningkatkan mitigasi guna mengantisipasi terjadinya insiden dalam proyek kereta api, baik Light Rail Transit (LRT) maupun Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta.
Ilham Budhiman | 29 Agustus 2018 17:37 WIB
Kereta Light Rail Transit (LRT) melintas usai pelaksanaan salat Idul Adha di depan Masjid Agung Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (22/8). - ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah dinilai perlu meningkatkan mitigasi guna mengantisipasi terjadinya insiden dalam proyek kereta api, baik Light Rail Transit (LRT) maupun Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta.

Apalagi, saat ini sejumlah proyek transportasi massal yang digarap pemerintah tersebut tengah dikebut penyelesaiannya seperti LRT Jabodebek, LRT Jakarta, dan MRT Jakarta.

Pengamat Transportasi dari Unika Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno mengatakan pemerintah perlu menyiapkan upaya mitigasi lantaran berkaca pada pengalaman sebelumnya ketika LRT Palembang mengalami mogok berkali-kali.

Menurutnya, kesiapan mitigasi itu juga diperlukan agar tidak membuat para penumpang panik apabila LRT/MRT tersebut mengalami kejadian serupa seperti LRT Palembang.

"Jangan khawatir mogok sebab semua kereta di dunia itu pernah mogok. Jadi yang penting ada mitigasi, agar penumpang tidak panik saat terjadi sesuatu," kata Setijowarno belum lama ini.

Di samping itu, persiapan uji coba sebelum pengoperasian penuh juga diperlukan dengan waktu yang memadai guna mendeteksi titik lemah mana saja yang terdapat pada transportasi massal tersebut.

Dia berpandangan kejadian mogok berkali-kali yang terjadi pada LRT Palembang diakuinya lantaran uji coba yang dilakukan dirasa kurang lama.

Ujicoba pun idealnya perlu dilakukan kurang lebih selama 6 bulan sehingga nantinya akan terlihat kinerja kereta api tersebut apakah sudah layak beroperasi penuh atau belum.

"Contohnya MRT Jakarta, maka uji coba saja dulu, makin lama agar semakin bagus. Setidaknya dengan ujicoba 6 bulan itu menjadi kepastian agar kita tahu titik lemahnya di mana," ungkapnya.

Oleh karena itu, ke depannya pemerintah dinilai sudah perlu mengupayakan mitigasi untuk sejumlah proyek tersebut. "Sebab sudah beoperasi pun tidak menutup kemungkinan terjadi mogok. Makanya yang penting mitigasinya, kalau terjadi mogok bagaimana," jelasnya.

Adapun pada perkembangannya, untuk LRT Jakarta koridor 1 fase 1 dinyatakan laik untuk dioperasionalkan secara terbatas.

Operasional dalam rangka uji coba LRT antara Stasiun Velodrome hingga Stasiun Mall Kelapa Gading tersebut berlangsung selama 30 hari kalender dimulai 21 Agustus hingga 20 September mendatang.

Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Zulfikri mengatakan laiknya operasional kereta ringan itu ditandai dengan turunnya dua surat rekomendasi dari Kementerian Perhubungan.

Isinya terkait rekomendasi teknis prasarana perkeretaapian jalur ganda layang dan bangunan kereta api ringan (LRT) Jakarta antara Stasiun Velodrome dan Stasiun Mal Kelapa Gading dan rekomendasi teknis pengoperasian perkeretaapian fasilitas operasi LRT Jakarta antara Stasiun Velodrome dan Stasiun Mal Kelapa Gading.

Sementara menurut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi LRT Jabodebek akan segera tersambung ke Bogor atau tepatnya Terminal Baranangsiang menyusul pengerjaan LRT di kawasan selatan Jakarta telah terbangun hingga kawasan Cibubur.

Adapun MRT Jakarta akan melakukan ujicoba secara penuh setidaknya pada Februari 2019 mendatang seiring serangkaian pengetesan yang sudah dan tengah dilakukan.

Tag : kereta api
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top