Ini Tantangan dan Peluang Industri Perikanan di Era Industri 4.0

Selain peluang, persaingan global juga dinilai membawa sejumlah tantangan bagi perikanan budidaya, khususnya di tengah era Revolusi Industri ke-4 atau Industri 4.0.
Juli Etha Ramaida Manalu | 29 Agustus 2018 21:58 WIB
Presiden Joko Widodo (keempat kanan) mengunjungi pameran Indo Livestock 2018 Expo & Forum di Jakarta, Jumat (6/7/2018). Pameran ini menampilkan aneka produk industri peternakan, kesehatan hewan, pakan ternak, pengolahan susu dan perikanan. - JIBI/Yodie Hardiyan

Bisnis.com, JAKARTA—Selain peluang, persaingan global juga dinilai membawa sejumlah tantangan bagi perikanan budidaya, khususnya di tengah era Revolusi Industri ke-4 atau Industri 4.0.

Untuk menghadapi persaingan perdagangan global yang semakin ketat selain produktivitasnya, produk perikanan juga dinilai harus berdaya saing tinggi yang tidak terlepas dari ketersediaan input teknologi, sumberdaya manusia, mesin juga rantai sistem produksi yang efisien dari hulu hingga hilir serta mutu produk yang terjamin.

“Teknologi informasi dapat mengefisienkan rantai distribusi, sehingga harga jual di tingkat konsumen lebih murah dari pasar tradisional, serta pemanfaatkan teknologi informasi  dalam akuakultur juga dapat digunakan untuk mendapatkan informasi ketersediaan benih unggul, pakan, sarana dan prasarana produksi”, kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, Rabu (29/8/2018).

Selama ini, distribusi produk perikanan budidaya umumnya melewati rantai bisnis yang panjang mulai dari pembudidaya ikan hingga ke konsumen akhir, akibatnya terdapat akumulasi margin dalam komponen harga akhir yang membebani konsumen.

Dengan teknologi digital, pembudidaya ikan dapat memasarkan produknya langsung ke konsumen tanpa melewati rantai pasok yang panjang sehingga biaya transaksi menjadi lebih mudah. Dengan demikian, akumulasi margin yang sebelumnya terjadi dapat ditekan dan dinikmati oleh pembudidaya ikan dalam bentuk harga jual yang lebih baik, sementara konsumen mendapat harga yang lebih murah.

Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya mendorong akuakultur berbasis e-commerce digital yang bertujuan untuk  memperpendek rantai distribusi yang tidak efisien, memberikan kepastian harga di pembudidaya ikan dan konsumen, meningkatkan konektivitas serta menghilangkan batas jarak, ruang dan waktu untuk menyediakan sarana input dan pasar dalam pengembangan industrisasi akuakultur, dan  menghadirkan model bisnis akuakultur yang efisien di tengah-tengah masyarakat.

Slamet menjelaskan, transformasi industrialisasi akuakultur di era industri 4.0 menuju otomatisasi dan digitalisasi harus meliputi sejumlah hal seperti transformasi dari orientasi pada eksploitasi sumberdaya alam (SDA) menunju efisiensi SDA, jasa, dan peningkatan nilai tambah dan produktivitas.

Selain itu, adapula transformasi dari penggunaan unskilled tenaga kerja menuju penciptaan lapangan kerja yang benar-benar diperuntukkan bagi SDM terlatih. Namun, hal ini menghadapi tantangan di mana lapangan kerja untuk unskilled tenaga kerja dapat berkurang,

Adapun transformasi ketiga yakni dari kondisi akses pasar yang terbatas dan daya saing produk yang rendah menuju akses pasar yang terbuka luas (hyperconnection), berdaya saing tinggi dan manajemen yang efisien. 

“Kita bersyukur, di era digitalisasi saat ini telah lahir banyak sekali startup di kalangan anak-anak muda kreatif termasuk sebagai startup di bidang teknologi digital di bidang akuakultur, dimana mereka mampu menghadirkan model bisnis akuakultur yang efisien di tengah-tengah masyarakat”, katanya.

Dia mencontohkan adanya startup seperti InFishta, Crowde, dan Venambak  yang mengembangkan financial technology (Fintech) seperti pengembangan model crowdfunding bagi berbagai pembiayaan usaha akuakultur yang diharapkan dapat menarik lebih banyak investasi. Di sisi lain, tentunya akan membantu pembudidaya untuk meningkatkkan kapasitas usahanya.

Tag : perikanan
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top