Fenomena Upwelling di Danau Toba Seharusnya Bisa Diantisipasi

Kementerian Kelautan dan Perikanan menilai fenomena upwelling yang menyebabkan ratusan ikan mati seharusnya bisa diprediksi sebelumnya.
Juli Etha Ramaida Manalu | 29 Agustus 2018 22:11 WIB
Tempat pelelangan ikan - Antara

Bisnis.com, JAKARTA—Kementerian Kelautan dan Perikanan menilai fenomena upwelling yang menyebabkan ratusan ikan mati seharusnya bisa diprediksi sebelumnya. 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto menyebutnya, kematian ikan akibat upwelling merupakan fenomena tahunan yang terus berulang kendati dengan efek dan lokasi yang berbeda.

“Yang jelas, kematian itu terjadi setiap tahun karena ada perubahan suhu bawa dengan lapisan atas, upwelling. Kejadiannya tiap tahun terjadi tetapi kematiannya bervariasi dan tempatnya juga berbeda-beda,” jelasnya ketika ditemui usai membuka acara Kick Off Meeting Aquatica Asia & Indoaqua 2018, Rabu (29/8/2018).

Slamet menjelaskan bahwa fenomena upwelling biasanya terjadi saat pergantian musim menuju musim hujan yakni sekitar Juli-Agustus, juga diprediksi akan kemabali terjadi pada November-Desember nanti, ketika curah hujan semakin tinggi dan akan berulang kembali pada tahun depan di waktu yang sama.

Untuk itu, sesuai dengan prediksi terjadinya upwelling di menyebutkan bahwa pemerintah pusat sebenarnya telah menyurati para bupati atau kepala daerah yang memiliki waduk di wilayahnya untuk mengurangi kepadatan keramba jaring apung atau melakukan panen awal sebelum datangnya fenomena ini.

Pasalnya, tingkat kepadatan populasi ikan dalam keramba jaring apung disebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tingginya jumlah ikan yang mati pada saat upwelling terjadi. Tak hanya itu, para pemda juga diminta untk mengatur keramba jaring apung di daerahnya agar bisa dikurangi jumlahnya.

“Keramba-keramba di perairan umum pun, bukan hanya Danau Toba saja, itu akan kita lakukan rasionalisasi sesuai dengan daya dukungnya. Sekarang kan hampir semua danau waduk overcapacity. Itu yang menyebabkan juga mati banyak,” jelasnya.

Sementara itu, Anggota Tim Satgas Ahmad jauhari menjelaskan bahwa berdasarkan hasi monitoring kualitas perairan dan investigasi di lapagan, setidaknya ada tiga dugaan sementara penyebab kematian massal ikan tersebut yakni terjadinya penurunan suplai oksigen, bagi ikan, kepadatan ikan dalam keramba jaring apung yang terlalu tinggi, dan lokasinya yang terlalu dangkal sementara dasar perairan merupakan lumpur.

Turunnya suplai oksigen, katanya, disebabkan upwelling yang dipicu cuaca ekstrim dan berakibat perbedaan suhu yang mencolok antara air permukaan dan suhu air dibawahnya mengakibatkan terjadinta pergerakan massa air dari bawah ke permukaan.

 Pada umumnya fenomena upwelling ini memang mebawa nutrisi  berikut partikel-partkel dari dasar air. Namun, hal ini menyebabkan pasokan oksigen untuk ikan berkurang ditambah lagi dengan lokasi keramba jaring apung yang dangkal sehingga menyebabkan kematian ikan.

 Untuk itu, dalam waktu dekat, KKP akan mendorong kegiatan bersih-bersih perairan umum.

Tag : perikanan
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top