Menteri Basuki: Kontraktor Agar Mitigasi Kegagalan Konstruksi

Pemenuhan SDM dan peralatan baik dari segi kuantitas maupun kualitas sulit dilakukan dalam jangka pendek. Demikian pula banyaknya target pembangunan infrastruktur dan tenggat waktu penyelesaian yang ketat memerlukan kendali yang juga lebih ketat terutama dalam hal keselamatan dan kesehatan kerja.
Fajar Sidik
Fajar Sidik - Bisnis.com 30 Agustus 2018  |  12:14 WIB
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono. (istimewa)

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mendorong para kontraktor dan pekerja konstruksi untuk meningkatkan kualitas karena perannya sangat penting dalam memitigasi risiko kecelakaan dan kegagalan konstruksi.

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono mengatakan para kontraktor dan pekerja konstruksi penting meningkatkan kualitas SDM agar bekerja lebih sistematis, disiplin, dan terukur berdasarkan prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Menurutnya, budaya keselamatan dan kesehatan kerja harus dipegang teguh masyarakat jasa konstruksi sebagai bagian upaya mitigasi risiko terhadap kemungkinan timbulnya kecelakaan konstruksi maupun kegagalan bangunan.

"Sebagai pembina jasa konstruksi nasional, Kementerian PUPR telah melakukan berbagai langkah nyata baik dari sisi regulasi diantaranya dengan adanya UU No. 2 tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi. Dari sisi kelembagaan juga dibentuk Komite Keselamatan Konstruksi (Komite K2) dan kampanye publik melalui gerakan nasional keselamatan konstruksi yang telah dicanangkan pada 29 Januari 2018 bertepatan dengan Bulan K3," ujar Basuki dalam siaran pers, Kamis (30/8/2018).

Upaya lainnya adalah meningkatkan profesionalisme tenaga kerja konstruksi melalui percepatan sertifikasi termasuk petugas K3 dan ahli K3. Selain itu juga tengah dilakukan registrasi peralatan konstruksi. Hal ini untuk menjamin kesiapan alat pada saat pelaksanaan pekerjaan berlangsung.

“Saat ini Kementerian PUPR telah menerbitkan 4.778 sertifikat petugas K3. Untuk pekerjaan dengan risiko tinggi diperlukan ahli K3 dan saat ini telah terdapat 2.861 ahli K3 yang telah bersertifikat,” kata Basuki pada pembukaan seminar Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) dengan tema "Gempa, Kecelakaan Konstruksi, Kegagalan Bangunan dan Profesionalisme SDM Konstruksi" di Hotel Borobudur. Hadir dalam acara tersebut Ketua HAKI Drajat Hoedajanto dan Ambassador of American Concrete Institute Andrew W. Taylor, Dirjen Cipta Karya Danis H.

Basuki menjelaskan pemenuhan SDM dan peralatan baik dari segi kuantitas maupun kualitas sulit dilakukan dalam jangka pendek. Demikian pula banyaknya target pembangunan infrastruktur dan tenggat waktu penyelesaian yang ketat memerlukan kendali yang juga lebih ketat terutama dalam hal keselamatan dan kesehatan kerja.

Kondisi tersebut dapat diatasi melalui peran Asosiasi Profesi dan Asosiasi Perusahaan Konstruksi dalam penyebaran informasi terkait jasa konstruksi, dan pembinaan kompetensi SDM jasa konstruksi secara berkelanjutan, dalam rangka mengurangi tingkat kecelakaan konstruksi dan kegagalan bangunan.

Sebagai negara rawan bencana, pembangunan infrastruktur di seluruh negeri seperti bendungan, jembatan, jaringan jalan, bangunan gedung hunian dan perkantoran, jaringan komunikasi, listrik,tidak luput dari ancaman dan risiko bencana seperti banjir, gunung merapi maupun gempa bumi. Oleh karena dalam merancang suatu konstruksi bangunan, para insinyur juga harus memperhatikan peta sumber dan bahaya gempa serta data dari BMKG mengenai cuaca.

“Kami berupaya keras untuk mendorong K3 menjadi bagian dari budaya kerja di dunia konstruksi, yang banyak kita kenal dengan program zero accident atau safety first,” kata Menteri Basuki.

Menteri Basuki secara khusus memberikan apresiasi kepada HAKI atas kontribusi dan dukungan dalam meningkatkan budaya K3, khususnya setelah terjadi beberapa peristiwa kecelakaan kerja pada akhir tahun 2017 dan awal 2018.

Tag : konstruksi
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top