Tol Kapal Betung, Teknik Vakum Prioritas Atasi Lahan Rawa

PT Waskita Karya (Persero) Tbk memprioritaskan teknik vakum dan preloading dalam proyek jalan tol Kayuagung—Palembang—Betung karena lebih efisien untuk mengatasi kesulitan pembangunan di area rawa.
Dinda Wulandari | 30 Agustus 2018 19:56 WIB
Jalan tol ruas Bakauheni - Terbanggi Besar di Lampung. - Antara

Bisnis.com, PALEMBANG – PT Waskita Karya (Persero) Tbk memprioritaskan teknik vakum dan preloading dalam proyek jalan tol Kayuagung—Palembang—Betung karena lebih efisien untuk mengatasi kesulitan pembangunan di area rawa.

Direktur Utama PT Waskita Karya (Persero) Tbk. I Gusti Ngurah Putra mengatakan pemilihan kedua teknik tersebut mempertimbangkan biaya pengerjaan yang lebih murah untuk menghadapi tantangan berupa kondisi lahan yang sulit seperti rawa.

“Kami pilih yang paling prioritas vakum dan preloading karena harga lebih murah, kalau tidak bisa baru pakai [teknik] struktur,” katanya di sela-sela ekspedisi tembus tol Trans Sumatra di Palembang, Rabu (29/8/2018) malam.

Putra menjelaskan biaya pembangunan tol dengan kondisi tanah normal sekitar Rp100 miliar per kilometer. Namun jika tanah lebih sulit, seperti rawa, maka digunakan vacum consolidation method (VCM) dengan estimasi biaya Rp130 miliar per km.

Sementara jika pengerjaan menggunakan teknik struktur bakal memakan biaya lebih mahal yakni sekitar Rp250 miliar per km.

Dia memaparkan kondisi tanah yang sulit di proyek Kapal Betung yang merupakan bagian dari tol Trans Sumatra tersebut sepanjang 42 kilometer dari total 112 kilometer.

Menurut Putra, penerapan teknik vakum memang memakan waktu lebih lama dibanding pengerjaan normal.

“Untuk vakumnya sendiri minimal 4 bulan. Tetapi  Kalau kita lihat sudah dijalankan semua vakumnya, Februari bisa selesai sehingga Juni kelar konstruksi,” ucapnya.

Dia mengemukakan target penyelesaian dapat sesuai jadwal yang ditentukan sangat bergantung pada pembebasan lahan dan efisiensi konstruksi.

Sementara Kepala Divisi 6 PT Waskita Karya (Persero) Tbk, Gunadi, menambahkan progress konstruksi Kapal Betung mencapai 53,5%.

“Untuk pembebasan lahan, masih ada sekitar 8% lagi yang belum. Tempatnya spot-spot dan status lahannya ada yang milik masyarakat maupun perusahaan,” ujarnya.

Diketahui, proyek tol Kapal Betung senilai Rp20 triliun itu merupakan investasi perseroan setelah mengakuisisi PT Sriwijaya Makmoer Persada. Adapun kepemilikan proyek ini 99% merupakan Waskita Toll Road dan 1% milik Pemkab Ogan Komering Ilir berupa penyertaan lahan untuk dibebaskan.

Sebelumnya, Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan pemerintah optimistis tol Trans Sumatra ruas Bakauheni (Lampung) hingga Palembang (Sumatra Selatan) bisa selesai dan digunakan masyarakat pada tahun depan.

“Sesuai progress, semua jalan cuma memang ada area yang sulit berupa rawa dan memakan waktu lebih lama. Targetnya Bakauheni—Palembang bisa selesai 2019,” katanya.

Rini mengatakan jika Trans Sumatra ruas Bandar Lampung – Palembang rampung, masyarakat dapat menikmati perjalanan melintasi dua kota itu itu lebih singkat yakni hanya 5 jam dari biasanya 12 jam.

Tag : jalan tol
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top