Proyek Kabel Bawah Laut Australia-Indonesia-Singapura Rampung

PT XL Axiata Tbk. memastikan proyek Sistem Komunikasi Kabel Laut Australia-Indonesia-Singapura telah rampung dan akan beroperasi sesuai jadwal.
Dhiany Nadya Utami | 31 Agustus 2018 08:28 WIB
Fiber Optic - Ilustrasi

Bisnis.com, JEMBRANA — PT XL Axiata Tbk. memastikan proyek Sistem Komunikasi Kabel Laut Australia-Indonesia-Singapura telah rampung dan akan beroperasi sesuai jadwal.

Direktur Teknologi XL Axiata Yossie D Yosetya mengatakan saat ini pengerjaan proyek yang dimulai pada Desember 2017 tersebut telah mencapai 100% dan tengah dalam masa uji coba. Pun, jaringan akan mulai beroperasi pada September 2018.

“[Siap beroperasi] sesuai jadwal,” ujarnya pada Bisnis usai peluncuran aplikasi Laut Nusantara di Jembrana, Bali, Kamis (30/8/2018).

Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) tersebut membentang sepanjang 4.600 kilometer (km) dan menghubungkan Australia dan Singapura. Di Indonesia, landing point jalur tersebut jatuh di kawasan Anyer, Banten.

XL Axiata ikut serta sebagai perwakilan Indonesia dalam proyek ini sekaligus sebagai landing partner dan admnistrator.

Adapun proyek yang digarap oleh perusahaan telekomunikasi Vocus Group dan penyedia layanan dan produk jaringan bawah laut Alcatel Submarine Networks (ASN) ini, bukan untuk menambah kecepatan akses tetapi lebih bertujuan untuk memperluas kapasitas bandwith serta  meingkatkan ketahanan jalur akses ke luar negeri.

Nantinya, kapasitas yang akan diperoleh dari jalur komunikasi tersebut 6 kali lipat dari kapasitas jaringan internasional Indonesia sekarany, yakni 30 TB untuk jalur Indonesia ke Singapura dan 20 TB untuk Indonesia ke Perth, Australia.

Jalur komunikasi ini diharapkan dapat menekan ketergantungan terhadap Singapura yang merupakan jalur utama trafik Indonesia ke jaringan global saat ini. Selain itu, jalur komunikasi internasional melalui Australia ini dinilai lebih aman dibandingkan dengan jalur yang melalui Filipina.

Sebelumnya, Chairman Vocus Group Vaughan Bowen mengungkapkan nilai proyek tersebut sekitar US$170 juta. Dia menerangkan keberadaan jaringan tersebut amat penting terutama untuk mendukung infrastruktur Informasi Teknologi (IT) di Indonesia.

“Untuk kali pertama, ini merupakan sebuah hub di tengah arus trafik yang menghubungkan Asia dan Amerika Utara dan bukan menjadi sebuah akhir dari jaringan optik fiber yang ada di kawasan tersebut," papar Bowen dalam pernyataan resminya.

Tag : xl axiata, kabel bawah laut
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top