Petani Bekasi Kejar Ketinggalan Masa Tanam

Petani di Kabupaten Bekasi melakukan Gerakan Tanam Serentak (Gertak) diatas lahan 384 ha setelah mendapatkan pasokan air dari Bendungan Jatiluhur.
Pandu Gumilar | 01 September 2018 21:12 WIB
Petani mengangkut benih padi di area pesawahan Pulo Ampel, Serang, Banten, Rabu (17/1/2018). - Antara/Weli Ayu Rejeki

Bisnis.com, JAKARTA - Petani di Kabupaten Bekasi melakukan Gerakan Tanam Serentak (Gertak) diatas lahan 384 ha setelah mendapatkan pasokan air dari Bendungan Jatiluhur.

Antarjo Dikin, selaku penanggung jawab Upaya Khusus Swasembada Padi, Jagung dan Kedelai (Upsus Pajale) Jawa Barat, mengatakan secara keseluruhan, luas tanam di Kabupaten Bekasi  48.406 ha dan pada akhir musim tanam periode April - September 2018 baru capai 35.893 ha dari  54.070 ha atau 66, 38% dari target yang ditetapkan.

"Hal ini masih tertinggal dibandingkan petani di  kabupaten Karawang yang di akhir masa tanam telah capai 75,15% namun masih di atas pencapaian petani di Kota Bekasi yang baru mencapai 57,47% dari target," katanya Sabtu (1/9/2018).

Beruntungnya pada puncak musim kering petani masih dapat menanam serentak berkat air dari Bendungan Jatiluhur.

Dia berharap petani dapat menggunakan air dengan efisien dan dapat menjaga kebersihan saluran irigasi dari sampah dan lakukan pengawasan terhadap hama  secara reguler.

Antarjo juga mengatakan dengan pendampingan khusus secara bersama petani dan tim upsus Kabupaten Bekasi dapat meningkatkan Index Pertamanan dari 250 menjadi 300.

Secara terpisah, Banun Harpini selaku Ketua Penanggung Jawab Tim Upsus Pajale Propinsi Jabar menyampaikan bahwa di masa tanam periode April - September 2018 dari 27 kabupaten di propinsi Jawa Barat dengan luas tanam 922.875 telah mencapai 81.08%.

Untuk itu, dia menginstruksikan secara khusus bagi penanggungjawab di sentra yang masih tertinggal untuk lakukan pemetaan dan mitigasi.

”Kami turunkan tim khusus untuk berkoordinasi dengan pihak terkait, antara lain TNI, Kementerian PUPR, serta pemerintah daerah setempat dalam memetakan permasalahan, negosiasi penggelontoran air dari Bendungan, serta terlibat langsung melaksanakan pengawalan gilir giring sesuai jadwal yang telah disepakati,” kata Banun.

Pemberian air irigasi difokuskan dan diprioritaskan terhadap wilayah-wilayah yang berpotensi akan mengalami gagal panen.

Penerapan jadwal gilir giring atau membagi jadwal pengairan yang sudah disusun di tingkat daerah akan diawasi secara ketat. Hal ini dilakukan agar lahan pertanian yang rawan kekeringan mendapatkan pasokan air yang cukup.

 

 

Tag : petani
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top