Begini Pendapat Ekonom terkait Kenaikan PMI Manufaktur pada Agustus 2018

Peningkatan indeks manufaktur dalam negeri pada Agustus 2018 didorong oleh peningkatan konsumsi kelas menengah atas.
Annisa Sulistyo Rini | 03 September 2018 20:25 WIB
Aktivitas karyawan di pabrik karoseri truk di kawasan industri Bukit Indah City, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (13/2). - Bisnis.com/NH

Bisnis.com, JAKARTA—Peningkatan indeks manufaktur dalam negeri pada Agustus 2018 didorong oleh peningkatan konsumsi kelas menengah atas.

Berdasarkan Nikkei Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI), indeks pada bulan kedelapan tahun ini berada di angka 51,9 atau naik dibandingkan Juli yang sebesar 50,5. Pada bulan sebelumnya, PMI hanya naik tipis dari 50,3 ke 50,5. Data indeks di atas 50 menunjukkan peningkatan, sedangkan di bawah 50 mengindikasikan penurunan.

Mohammad Faisal, Direktur Penelitian Center of Reform and Economic (CORE), mengatakan peningkatan permintaan dalam negeri terpantau terus naik sejak kuartal II/2018 dan diproyeksikan bakal terus berlanjut.

“Kelas menengah atas yang selama 1,5 tahun terakhir menunda belanja, sekarang belanja normal. Mereka lebih berani spending dan ini yang mendorong order naik,” katanya Senin (3/9/2018).

Untuk kelas menengah bawah, Faisal menyebutkan daya beli masih stabil. Namun, karena konsumsinya lebih kecil dibandingkan kelas menengah atas, kontribusi ke permintaan pun juga tidak terlalu besar.

Peningkatan konsumsi kelas menengah atas tersebut kemungkinan disebabkan oleh kepercayaan masyarakat terhadap perekonomian masih ada kendati nilai tukar rupiah masih terus melemah. Pelaku usaha juga dinilai masih optimistis terkait ekonomi dalam negeri terlepas dari permasalahan nilai tukar.

Sementara itu, untuk permintaan global, Faisal menyebutkan hingga kini memang masih lesu karena beberapa negara membatasi impor, terutama pruduk jadi, untuk melindungi industri dalam negeri, seperti Amerika Serikat, India, China, dan negara-negara Uni Eropa.

“Oleh karena itu, ekspor kita yang naik adalah ekspor komoditas, untuk manufaktur terbatas,” jelasnya.

Adhi S Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), menyebutkan permintaan domestik pada Agustus memang dirasakan lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya.

Peningkatan tersebut terjadi sejak kuartal II/2018. Pada periode tersebut, bisnis makanan dan minuman didorong oleh peningkatan permintaan masyarakat pada Hari Raya Lebaran.

Permintaan ini terkerek karena masyarakat menerima dana tunjangan hari raya (THR) dan gaji. Ketenangan situasi perpajakan juga menjadi salah satu pendorong pertumbuhan industri tersebut.

Sepanjang tahun ini, Gapmmi memproyeksi industri makanan dan minuman bisa tumbuh di atas 10% atau lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang sebesar 9,23%.

Tag : manufaktur
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top