Benarkah Indonesia Mengalami Deindustrialisasi? Ini Jawabannya

Dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi industri manufaktur terhadap produk domestik bruto nasional berkisar 20%. Padahal kontribusi ini sempat 29,05% pada 2001.
Anggara Pernando | 04 September 2018 13:56 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan gitar listrik di pabrik alat musik Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (27/3/2018). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA -- Dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi industri manufaktur terhadap produk domestik bruto nasional berkisar 20%. Padahal kontribusi ini sempat 29,05% pada 2001.

Demikian juga dengan pertumbuhan manufaktur yang rata-rata tumbuhnya berada di bawah pertumbuhan ekonomi. Posisi ini membuat Indonesia disebut mengalami deindustrialisasi.

Meski begitu, Kementerian Perindustrian menampik tudingan bahwa Indonesia mengalami deindustrialisasi. Pasalnya, investasi sektor manufaktur dari dalam dan luar negeri masih agresif sehingga jumlah pabrikan terus tumbuh dan terjadi peningkatan pada penyerapan tenaga kerja.

“Kami optimistis, sektor industri masih dan akan terus mengalami pertumbuhan. Apalagi, pemerintah saat ini fokus untuk mentrasformasi ekonomi menuju negara yang berbasis industri,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara dalam keterangan tertulis yang dikutip Selasa (4/9/2018).

Ngakan menyebutkan industri diyakini ke depan juga akan semakin berkembang karena pemerintah berkomitmen menciptakan iklim invetasi yang kondusif. Pemerintah juga menyediakan insentif fiskal dan kemudahan perizinan usaha.

“Seiring upaya tersebut, kami menjalankan kebijakan hilirisasi guna mendorong industri bisa menciptakan nilai tambah tinggi terhadap bahan baku dalam negeri sehingga dapat menghasilkan devisa dari ekspor,” katanya.

Dia juga meyakini Indonesia merupakan sebuah negara industri. Ini terlihat dari laporan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) yang menunjukkan, Indonesia menempati peringkat ke-9 dunia sebagai negara penghasil nilai tambah terbesar dari sektor industri.

“Indonesia juga mengalami peningkatan pada Global Competitiveness Index, yang saat ini mengalami kenaikan di posisi ke-36 dari sebelumnya peringkat ke-41,” katanya.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan pada triwulan II/2018 memberi kontribusi PDB sebesar 19,83%. Sementara untuk pertumbuhan industri pengolahan nonmigas, berada di angka 4,41%. Ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada periode yang sama dimana mencapai 5,27%, meski angka tersebut lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,93%.

Dia juga mengklaim, manufaktur juga berperan besar dalam menyerap tenaga kerja. Pada 2010, terdapat 13,82 juta tenaga kerja di sektor industri, naik menjadi 17,5 juta tenaga kerja pada 2017.

Tag : manufaktur
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top