Siap-Siap, Harga Jagung Bakal Terus Melejit

Harga jagung untuk pakan ternak domestik diperkirakan masih akan terus naik setidaknya hingga akhir tahun ini.
Yustinus Andri DP | 05 September 2018 15:25 WIB
Presiden Joko Widodo memanen jagung bersama petani saat panen raya jagung di Perhutanan Sosial, Ngimbang, Tuban, Jawa Timur, Jumat (9/3/2018). - ANTARA/Zabur Karuru

Bisnis.com, JAKARTA — Harga jagung untuk pakan ternak domestik diperkirakan masih akan terus naik setidaknya hingga akhir tahun ini.

Sekretaris Dewan Jagung Nasional Maxdeyul Soya mengatakan, saat ini harga jagung untuk pakan ternak di tingkat konsumen telah mencapai Rp5.000/kg, naik hampir dua kali lipat dari kondisi normal pada masa panen raya, yang berada pada kisaran Rp3.800/kg.

“Setidaknya harga jagung pakan masih akan naik sampai akhir tahun ini, sejak pertama kali menembus Rp5.000/kg pada Agustus. Harganya nanti mungkin bisa sampai Rp6.000/kg,” katanya kepada Bisnis.com, Selasa (4/9/2018).

Menurut Maxdeyul, kenaikan harga jagung pada paruh kedua tahun berjalan, sejatinya merupakan siklus tahunan. Hanya saja, pada tahun ini, kondisi tersebut diperparah oleh kemarau panjang yang memicu kekeringan di sejumlah sentra produksi jagung yang masih mengandalkan sistem tadah hujan.

Dia pun memperkirakan, akibat kekeringan, produksi jagung Tanah Air pada tahun ini tidak akan mencapai target yang ditentukan oleh Kementerian Pertanian, yakni sebanyak 30 juta ton. Produksi jagung 2018 diprediksi hanya akan mencapai 25 juta ton, turun dari realisasi produksi tahun lalu sebesar 27 juta ton.

“Maka tidak heran kalau harga masih akan terus naik,” lanjutnya.

Sementara itu, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rusli Abdulla menjelaskan, kenaikan harga  masih akan terus terjadi setidaknya hingga panen raya pada Februari—Maret 2019.

Dia pun melihat, harga jagung nasional—terutama untuk pakan ternak—cenderung akan bertahan pada posisi stabil tinggi dan sulit menggapai  harga acuan pemerintah dalam waktu yang lama.

Seperti diketahui, Peraturan Menteri Perdagangan No.58/2018 mengatur harga acuan jagung dengan kadar air 15% pada level Rp3.150/kg.

Menurut Rusli, hampir 40% lahan tanam jagung nasional berada di luar Pulau Jawa seperti di Sulawesi dan Lampung. Namun demikian, industri pengolahan jagung untuk pakan ternak hampir 70% berada di Pulau Jawa.

“Dari segi rantai distribusi, jarak sentra produksi dan pengolahannya saja sudah cukup jauh. Makanya bisa jadi lonjakan harga seperti yang terjadi saat ini, akan kembali terulang pada tahun-tahun mendatang,” paparnya.

Untuk itu, dia melihat pembukaan keran impor jagung untuk pakan ternak,  bakal menjadi salah satu solusi untuk menekan harga komoditas tersebut. Hanya saja, kebijakan pengadaan luar negri tersebut harus menjadi pilihan terakhir bagi pemerintah, yakni apabila harga sudah tidak terkendali.

Menurutnya, salah satu dampak kenaikan harga jagung untuk pakan adalah beralihnya para produsen pakan ternak ke penggunaan gandum. Selain karena impornya yang masih belum dibatasi, dengan kondisi saat ini harga gandum dianggap lebih murah dibandingkan dengan harga jagung.

Tag : harga jagung
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top