Ini Kiat Bulog Mengendalikan Harga Beras Medium

Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Persero) segera menggelontorkan 15.000 ton cadangan beras pemerintah per hari, setelah mendapat instruksi langsung dari Presiden Joko Widodo.
M. Richard | 05 September 2018 15:27 WIB
Pekerja membersihkan gudang beras Bulog Divre Sulselbar di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (13/6/2016). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Persero) segera menggelontorkan 15.000 ton cadangan beras pemerintah per hari, setelah mendapat instruksi langsung dari Presiden Joko Widodo.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) mengatakan, program penetrasi pasar tersebut bertujuan untuk menjaga ketahanan pangan nasional dan stabilitas harga beras medium.

"Ini perintah presiden, dia mengatakan bahwa mulai ada peningkatan harga beras medium di kalangan masyarakat," tegasnya, Selasa (4/9/2018).

Dia menambahkan, kegiatan penetrasi pasar tersebut juga merupakan rekomendasi yang didasari oleh data Bank Indonesia, yang menunjukkan harga beras mengalami kenaikan 0,11% pada pekan ke-3 hingga ke-4 Agustus.

Untuk itu, sebut Buwas, Bulog akan menggelontorkan cadangan beras pemerintah (CBP) sekitar 10.000 ton hingga 15.000 ton per hari dengan batas waktu yang belum ditentukan. 

Adapun, ketentuan harganya a.l. Rp8.100/kg untuk wilayah 1 (Jawa. Lampung, Sumsel, Bali, NTB, Sulawesi), Rp8.600/kg untuk wilayah 2 (Sumatera kecuali Lampung dan sumsel, NTT, Kalimantan), dan Rp8.900/kg untuk wilayah 3 (Maluku, Papua).

Menurut Buwas, program penetrasi pasar kali ini hanya bersifat preventif dan jumlah penggelontoran tidak harus persis 15.000 ton per hari, karena harga beras di pasar masih cenderung stabil.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog Tri Wahyudi Saleh menjabarkan, meski akan melakukan penetrasi pasar secara reguler, stok CBP masih akan terjaga dalam level aman hingga akhir tahun.

Per Selasa (4/9), stok beras Bulog berada pada level 2,6 juta ton, terdiri atas 143.000 ton beras komersial dan 2,45 juta ton CBP. Sebanyak 600.000 ton beras akan disalurkan kepada masyarakat dalam bentuk penerima keluaga harapan (PKH), beras sejahtera, dan bantuan sosial.

Terkait dengan pengadaan stok, Tri menyatakan Bulog masih menyerap beras petani di beberapa daerah yang sedang panen, seperti Sulawesi, Lampung, dan Palembang.

Sementara itu, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi menilai langkah stabilisasi harga Bulog tahun ini lebih efektif, karena derencanakan lebih awal.

"Terlebih untuk Jakarta yang tidak mempunyai sawah, yang persiapannya perlu dua atau tiga bulan sebelumnya," ucapnya.

Dia memaparkan, stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang saat ini mencapai 44.000 ton beras, yang mana batas amannya 25.000 ton hingga 30.000 ton. Bahkan, jumlah tersebut belum termasuk stok dari Food Station yang mencapai 10.000 ton beras.

Meski juga mengapresiasi langkah Bulog yang lebih dini dalam melakukan stabilisasi harga, Ketua Serikat Petani Indonesia Henry Saragih mengatakan, stok 2,6 juta ton beras milik Bulog saat ini masih tergolong rendah.

Jumlah tersebut hanya dapat mencukupi kebutuhan satu bulan konsumsi beras masyarakat Indonesia. Padahal, jika bercermin ke Thailand—yang memiliki stok beras untuk tiga bulan konsumsi—stok Bulog sangat tertinggal.

"Masih terlampau sedikit [untuk dapat menjaga kestabilan harga beras] jika kita hanya memiliki cadaangan beras kurang dari 10% dari konsumsi nasional," ucapnya.

Tag : beras bulog
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top