DEFISIT NERACA PERDAGANGAN MIGAS, Ini Penjelasan Menteri ESDM Ignasius Jonan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan bahwa strategi mengendalikan barang impor bertujuan untuk memberikan peluang industri nasional mengambil peran dalam setiap proyek sektor ini.
David Eka Issetiabudi | 05 September 2018 09:21 WIB
Kilang pengolahan minyak di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan bahwa strategi mengendalikan barang impor bertujuan untuk memberikan peluang industri nasional mengambil peran dalam setiap proyek sektor ini.

Jonan mengatakan, pengendalian impor bukan semata-mata pengurangan impor, tetapi juga penggunaan kandungan lokal atau TKDN.

“Memang untuk menghidupkan industri dalam negeri. Kalau memakai produk dalam negeri memang otomatis impor terpangkas. Kurangnya impor itu juga akibatnya saja, karena kita pakai produk dalam negeri,” katanya, Selasa (4/9/2018).

Setidaknya ada tiga poin yang ditekankan Jonan untuk mengendalikan impor di sektor ESDM, yakni terkait penerapan perluasan mandatori B20, beberapa proyek strategis nasional bidang kelistrikan dan migas yang perlu dijadwalkan ulang untuk mengurangi impor yang dipandang belum perlu serta memastikan devisa hasil ekspor bidang sumber daya alam, seperti minerba dan migas kembali ke Tanah Air.

Terlepas dari strategi Kementerian ESDM mengendalikan impor, Jonan juga memaparkan bahwa sektor sektor migas bukan menjadi penyebab lebarnya defisit neraca perdagangan nasional.

“Secara volume tidak naik terus, kalau nilai memang iya, karena menyesuaikan harga dunia,” katanya.

Menurutnya, dengan situasi meningkatnya harga minyak dunia, opsi menaikkan harga BBM bukan menjadi pilihan pemerintah. Jonan menjelaskan kalau harga BBM dinaikkan, tidak langsung berpengaruh menekan konsumsi.

NERACA SEKTOR MIGAS

Selain itu, pihaknya juga meminta dalam melihat neraca perdagangan migas juga melibatkan penerimaan negara. Penerimaan negara yang dimaksud adalah nilai lifting minyak dan gas, yang memberikan kontribusi senilai US$3,57 miliar pada kuartal II/2018.

Dengan ditambah dengan ekspor migas senilai US$2,97 miliar pada periode yang sama, maka neraca sektor migas masih surplus US$0,25 miliar pada kuartal II/2018. Impor sektor migas yang terdiri dari minyak mentah, produk dan LPG sepanjang kuartal II/2018 senilai US$6,29 miliar.

Jonan menambahkan secara volume tidak ada perubahan yang signifikan, meningkatnya nilai impor dipengaruhi oleh meningkatnya harga minyak dunia.  

“Selalu orang membandingkan neraca perdagangan migas, ekspornya berapa impornnya berapa, Akan tetapi bukan itu, penerimaan juga dilihat. Cuma sedikit selisihnya,” tambahnya.

 

Tabel (US$ miliar)

                                                Q1/2017          Q2/2017          Q1/2018          Q2/2018

  1. Penerimaan Negara     2,29                 2,39                 3                      3,57    
  2. Ekspor                         2,89                 2,33                 2,92                 2,97
  3. Impor                          5,86                 4,55                 6,44                 6,29

Neraca Sektor Migas   -0,68                0,17                 -0,53                0,25

Sumber: Kementerian ESDM, diolah

Tag : defisit transaksi berjalan
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top