Pemeriksaan Impor Ban, Besi dan Baja Serta Minol Digeser Ke Border

Pemerintah memutuskan untuk menggeser pemeriksaan komoditas larangan terbatas (lartas) ban, besi dan baja serta minuman beralkohol dari post-border menjadi border.
Yustinus Andri DP | 06 September 2018 17:23 WIB
Ditjen Bea Cukai Kemenkeu menggelar program penertiban impor berisiko tinggi. - Dok. Ditjen Bea Cukai

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah memutuskan untuk menggeser pemeriksaan komoditas larangan terbatas (lartas) ban, besi dan baja serta minuman beralkohol dari post-border menjadi border.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, kebijakan tersebut dilakukan setelah melalui sejumlah proses evaluasi dan dalam rangka mengendalikan aktivitas impor barang konsumsi dan bahan baku penolong  yang memiliki substitusi di dalam negeri.

“Proses pengawasan lartasnya untuk ketiga barang tersebut kami kembalikan dari sebelumnya di post border  menjadi di border  tetapi di pusat logistik berikat (PLB),” katanya, Rabu (5/9/2018) malam.

Menurutnya, kebijakan itu berlaku mulai Rabu (5/9) dan telah masuk dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) baru. Namun demikian, dia menyebutkan bahwa untuk produk besi dan baja, proses impor tetap tidak membutuhkan rekomendasi impor dari Kementerian Perindustrian.

“Perubahan ada padaproses pemeriksaannya, karena menjadi lebih ketat di border dan dilakukan di PLB,” tegasnya.

Menanggapi, hal tersebut  Ketua Cluster Flat Product Asosiasi Besi dan Baja Indonesia (IISIA) Purwono Widodo menyambut baik upaya pemerintah tersebut. Menurutnya, kebijakan itu akan membantu mengontrol impor besi dan baja yang berlebihan ke Indonesia. Di samping itu, produsen dalam negeri akan menjadi lebih bergairah karena tidak lagi merasa diabaikan pemerintah.

“Impor melalui jalur post border untuk besi dan baja selama ini sulit pengawasannya. Kami di dalam negeri kewalahan dengan kebijakan ini. Untuk itu kami apresiasi upaya tersebut,” katanya.

Seperti diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produk besi dan baja menjadi salah satu penyumbang terbesar impor produk non-migas selama Januari-Juli 2018, selain komoditas mesin dan peralatan listrik.   Pada periode tersebut, impor besi dan baja naik 36,32% secara year on year (yoy).

Tag : impor
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top