Manufaktur Lift dan Eskalator: MJEE Targetkan TKDN 40%

PT Mitsubishi Jaya Elevator and Escalator (MJEE) menargetkan meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri menjadi 40% dalam 5 tahun ke depan.
Anggara Pernando | 07 September 2018 20:54 WIB
Pekerja beraktivitas saat pemasangan fasilitas eskalator kereta ringan/Light Rail Transit (LRT) di Stasiun Jakabaring Zona 5 pembangunan LRT Palembang, Sumatra Selatan, Senin (8/1). - ANTARA/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA - PT Mitsubishi Jaya Elevator and Escalator (MJEE) menargetkan meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri menjadi 40% dalam 5 tahun ke depan. 

 F Christiant T Satrya, President Director MJEE, menuturkan saat ini tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang digunakan dalam produk lift dan eskalator mencapai 32%.

Jumlah ini akan terus ditingkatkan sesuai dengan kemampuan komponen lokal dalam memenuhi strandar pabrikasi perusahaan. Ia tidak bersedia menyebut besaran investasi yang disiapkan untung meningkatkan kandungan TKDN.

"Komponen impor biasanya untuk elektronik dan panel. Kami datangkan dari Jepang, Korea atau Thailand. Kami akan tingkatkan komponen lokal. Saat ini kami adalah satu-satunya brand internasional yang mempunyai pabrik di Indonesia," kata Christiant di sela peluncuran beberapa produk baru perusahaan di Jakarta, Jumat (7/9/2018). 

Dijelaskan, saat ini pembeli terbesar produk elevator dan eskalator perusahaan merupakan pasar apartemen. Segmen ini menyumbang 40% bisnis. Sedangkan, 60% lainnya tersebar pada rumah sakit, hotel, sekolah hingga rumah hunian. 

"Penjualan juga bervariasi. Dalam satu tahun produk kami bisa 60% di ekspor dan 40% di lokal atau seperti kondisi saat ini 70% lokal dan sisanya ekspor," katanya.

Christiant menyebut saat ini pihaknya mampu memproduksi 700 unit elevator dan eskalator setiap tahunnya. Akan tetapi untuk tahun ini, dirinya memperkirakan hanya akan memproduksi 500 unit lebih. Lebih rendah 20%-25% dibandingkan kapasitas maksimal perusahaan.

"Pekerjaan kita ini artinya baru akan digunakan 2 sampai 3 tahun mendatang. Kami perkirakan memang agak terjadi perlambatan permintaan," katanya.

Meski begitu, dia optimistis ekonomi akan segera pulih. Dengan demikian permintaan produk dari perusahaan akan kembali ke posisi maksimal.  

Sementara itu, PT Mitsubishi Electeic Indonesia (MEIN) mulai memperkenalkan teknologi daur ulang energi serta teknologi penghematan energi untuk gedung tinggi seperti mall, hotel hingga perkantoran.

Bentuk penghematan ini diterapkan pada AC Hibrid VRF beserta teknologi ventilator untuk recovery energy. Produk dan teknologi ini diyakini akan menekan konsumsi energi listrik hingga 30%.

"Produk ini pertama kali di Indonesia," katanya. 

 

Tag : manufaktur
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top